Beranda Opini Siapa Berani? (Ghozwul Fikri bag 2)

Siapa Berani? (Ghozwul Fikri bag 2)

37
0

Oleh: Fuad Rifky Abdulazis, SPdI
*) Pengajar SDN Proklamasi Kec Compreng, Kab Subang

PENCARIAN  kesempurnaan bisa sampai ke berbagai sudut dan kita dipaksa untuk tidak berdiam diri. Tak sedikit pun terlewatkan sampai langkah terayunkan. Meskipun langkah itu hanya sekedar ancaman. Setitik upah tak mengapa untuk bekal di akhirat nanti.
Pencabulan, sodomi, pemerkosaan dan hubungan di luar nikah lain makin banyak terjadi pada anak sekolah. Ini bisa dianggap cermin untuk rata-rata penduduk Indonesia. Perzinahan merupakan fenomena gunung es di tengah laut yang hanya terlihat puncaknya saja. Ketika semuanya belum terlambat untuk ditangani.

Sikap yang hanya memandang biasa situasi dan kondisi seperti sekarang ini bukanlah jawaban yang tepat. Agama kita tidak mengajarkan berbohong meskipun pada diri sendiri. Sepertinya inilah sikap orang-orang berpengetahuan yang ada di negeri ini. Akar permasalahan yang tidak tahu dari sejak kapan sampai pucuk daun tidak pernah tersentuh. Para penguasa pun sepertinya ‘ngeblend’ dengannya. Dan pada akhirnya kita pasrah gunung ini sampai meletus.

Ada titik di mana seorang manusia yang akan melaksanakan kehendaknya syarat utama yang harus dilakukan adalah berbuat keji (berzina), itu mungkin!! Penjelasannya adalah pada Ghozwul Fikri bagian 1, ditulis bahwa orang-orang kafir berencana untuk menghancurkan islam salah satunya lewat cara ini, semua yang sudah berbuat membentuk jejaring kuat dan dampaknya terjadilah seperti itu. Bagaimana jika ini mengakar pada diri umat muslim?…sakit!!!

Kebanyakan manusia jaman ini ‘dunia’ dijadikan tuhan yang dia sembah. Mencari ilmu sampai gelar doktor, bukan untuk niat ibadah kepada Nya, titel nya adalah tuhannya. Menjadi artis paling ngetop menggunakan segala cara sampai mau ditiduri (maaf) supaya mendapatkan peran utama. Mencari harta tak peduli halal-haram yang penting untung. Menjadi petualang cinta yang penting nafsu terlampiaskan. Itulah ‘ilah’ mereka. Sebagian dampak dari fenomena gunung es…

Masa revolusi adalah salah satu bom waktu yang meledak, memakan korban yang begitu banyak. Perlu menata kembali dari awal untuk bisa sampai menjadi seperti sekarang ini. Ibarat roda yang terus berputar awalnya kita di bawah suatu saat ada di bawah lagi. Perang sipil, reformasi jilid dua, transformasi atau apa lagi itu namanya, kemungkinan akan terjadi. Ini semua akibat kita terus berdiam diri.

Penguatan sikap harus ditanam sejak usia dini. Ujian dari Nya tidak untuk satu golongan tapi bersifat personal dan tidak luput. Berjamaah diperintahkan tapi kebenaran itu utama. Walaupun hanya sendiri, jika kita benar maka itulah jamaah. Di akhirat pun kita tidak saling kenal. Ini juga berlaku bagi suatu negara, mengapa ragu menentukan hukum untuk bangsanya.

Tes keperawan, tes keperjakaan atau tes pernah melakukan hubungan seks di luar nikah bisa dalam bentuk questioner, tidak hanya melalui tes fisik saja dan ini tidak berisiko apapun. Beliau-beliau para profesional bidang psikologi pasti mengetahui caranya. Dalam skala nasional pun bisa dan sepertinya tidak ada resiko yang berarti. Jika data hasil survey menunjukkan perbandingan yang signifikan untuk yang sudah melakukan, lalu tindakan apa yang seharusnya pemerintah lakukan. Jika pemerintah tidak mengambil tindakan yang tegas maka kembali kita tanyakan mengapa ada agama di negeri kita? Bukankah berislam itu sangat melelahkan…

‘Itulah al-kitab, tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi orang-orang bertakwa’ (Al-Baqoroh ayat 2). Al kitab adalah al-quran. Al yang dibubuhkan pada awal kata kitab dipakai dalam arti kesempurnaan. Dengan demikian, al kitab adalah kitab yang sempurna. Sedemikian sempurnanya sehingga tidak ada satu kitab yang wajar dinamai al kitab kecuali kitab yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw ini. Karena itu, begitu kata tersebut terdengar maka pikiran langsung menuju kepada al quran, walaupun dalam redaksinya tidak disebut bahwa yang dimaksud adalah al-quran. (Tafsir Al Misbah Vol 1 hal 85-86, M. Quraish Shihab).

Jika Al-Quran petunjuk yang sempurna, mengapa kita ragu menjalani dan terkesan ‘pintar’ dalam merealisasikannya. Belum ada seorang pun yang dapat mengungkap gunung es ini, …siapa berani?.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here