Beranda Headline Banyak Warga Subang Terinfeksi Virus HIV/AIDS, Penanggulangan Harus Lebih Serius

Banyak Warga Subang Terinfeksi Virus HIV/AIDS, Penanggulangan Harus Lebih Serius

90
0
PERSIAPAN: Panitia dari Komisi Penanggulangan Aids (KPA) saat rapat memersiapakan acara Hari Aids Sedunia (HAS) yang akan digelar pada 7 Desember mendatang. DOK KPA

SUBANG-Warga yang terifeksi virus HIV/AIDS di Subang terus bertambah. Hal itu salahsatunya dipicu aktivitas wanita pekerja seksual (WPS) yang tersebar di Kabupaten Subang.

Dinas Kesehatan mencatata ada sekitar 23 hot spot atau tempat WPS bekerja di berbagai daerah. Pihaknya berharap ada perhatian serius dari semua pihak terhadap penyebaran HIV.

Kabid P2P Dinkes Subang dr Maxi mengatakan, penyebaran HIV/AIDS di Subang sudah cukup tinggi dan darurat. Di antaranya akibat aktivitas di hotspot yang tersebar. Seperti di Cimacan, Padamulya, Cikijing Royek, Cisaga, janem dan lainnya.

Ia mengungkapkan, tidak hanya orang dewasa, sudah ada dua 2 orang bayi yang meninggal dunia karena terinveksi HIV. Secara keseluruhan yang teriveksi HIV ada 891 orang. Yang memenuhi syarat ARV (antiretroviral) ada 598 orang, jumlah komulatif orang yang memulai ARV sebanyak 596 orang dan jumlah komulatif orang yang on ARV ada 366 orang.

“Jika spot yang ada dibiarkan secara terus menerus, tidak dilakukan treatment maka dampaknya akan meningkatkan penderita HIV/AIDS secara berkepanjangan. Kami meminta masyarakat agar bisa berperilaku hidup sehat,” ujarnya.

Sementara Warga Kampung Cimacan Desa Balingbing Kecamatan Pagaden Barat inisial DH (35) mengatakan, Kampung Cimacan sudah terkenal sejak dulu terutama di tahun 90-an sebagai titil prostitusi. Bahkan yang datang ada dari luar Subang. Tapi saat ini kondisinya sudah mulai sepi. Sebab WPS sudah menua dan hanya mengandalkan pengunjung yang sudah uzur. dan “Sekarang Rp30ribu-50 ribu aja diambil, di sini yang paling tua ada umur 60 tahun,” ungkapnya.

Dijelaskan DH, rumah-rumah di Kampung Cimacan banyak yang dijadikan tempat hiburan dan eksekusi transaksi seksual. “Sekarang udah jarang pengunjung karena banyak yang membuat konsep rumahan seperti ini contohnya di Kampung Pendeuy Desa Padamulya, Cipunagara,” tuturnya.

Sementara itu Kepala Dinas Sosial Rahmat Effendi mengatakan, ‘kampung cinta’ menjamur dan masih eksis sampai sekarang dan seperti sudah menjadi budaya. Pihaknya terus melakukan pembinaan dan pelatihan WPS agar mau meninggalkan pekerjaannya.(ygo/man)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here