Beranda Opini Semua Bisa Sekolah, Penanganan Anak Tidak Sekolah (ATS) Melalui Pendidikan Kesetaraan

Semua Bisa Sekolah, Penanganan Anak Tidak Sekolah (ATS) Melalui Pendidikan Kesetaraan

18
0

Oleh: Iwan Yuswanto SPd

*) Pamong Belajar Pertama SPNF SKB SNN Kabupaten Subang

Meningkatkan kualitas hidup manusia dan melakukan revolusi karakter bangsa dapat dicapai melalui bidang pendidikan dengan memberikan kesempatan kepada seluruh warga Negara mendapatkan pendidikan. Hak memperoleh pendidikan bagi seluruh warga Negara merupakan hak dasar manusia hal ini sesuai UUD 1945 pasal 31 ayat 2 “setiap warga Negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya.

Hingga saat ini, disparitas partisipasi sekolah antar kelompok masyarakat masih cukup tinggi. Angka partisipasi kasar (APK)keluarga yang mampu secara ekonomi secara umum lebih tinggi dibandingkan dengan APK keluarga tidak mampu. Salah satu alasannya adalah tingginya biaya sekolahbaik biaya yang langsung maupun tidak langsung yang ditanggung oleh peserta didik. Biaya langsung peserta didik antara lain iuran sekolah, buku, seragam, dan alat tulis, sementara biaya tidak langsung yang ditanggung oleh peserta didik antara lain biaya transportasi, kursus, uang saku, dan biaya lain-lain.

Tingginya biaya pendidikan tersebut menyebabkan tingginya angka tidak melanjutkan sekolah tingginya angka putus sekolah (drop out), sehingga berpengarauh terhadap APK.

Dengan berbagai kondisi dan situasi anak sehingga tidak mengikuti program pendidikan dasar maupun kursus keterampilan, pemerintah mempunyai kewajiban untuk memberikan perhatian untuk mendata dan mengajak kembali untuk kembali menempuh pendidikannya sehingga nantinya dapat meningkatkan dan sejajar pendidikannya dengan anak-anak se usiannya serta mampu memberikan sumbangsih bagi kemajuan bangsa dan Negara.

Bagaimana cara kita untuk mensinergikan dalam penanganan anak tidak sekolah (ATS) agar dapat kembali belajar disatuan pendidikan baik itu jenjang formal maupun nonformal? Ini pertanyaan yang berwujud pada diskusi panjang yang seharusnya menjadikan solusi kongkrit bagi penanganan anak tidak sekolah.

Pada kasus-kasus dilapangan seperti dikutip diatas karena mereka terkendala berbagai faktor kenapa mereka sampai putus sekolah atau bahkan mereka tidak mau untuk sekolah? Diantara faktor yang paling dominan adalah ekonomi dan sosial, dengan kebutuhan hidup yang makin bersaing dikalangan masyarakat akhir-akhir ini sangat menentukan pada faktor ekonomi yang mereka rasakan. Begitu juga dengan pergaulan yang sangat modern di kehidupan sosial hari ini mereka banyak yang terjerumus pada kegiatan-kegiatan yang menyebabkan mereka bermalas-malasan untuk sekolah.

Terkadang praktisi-praktisi pendidikan dan fakar di bidang pendidikan sangat sulit menemukan solusi terbaik bagi penanganan anak tidak sekolah itu. Maka hal-hal yang menyangkut kepentingan sumber daya manusia kita harus bersama-sama merumuskan bahkan menyediakan format terbaru bagaimana anak yang tidak sekolah menjadi tergiur kembali untuk kembali belajar.

Dengan format terbaru itu telah hadir pada pembelajaran Daring yaitu pembelajaran nongkrong/bebas sambil belajar dengan menggunakan media elektronik semisal handphone android dan lainnya yang telah digaungkan di bidang pendidikan kesetaraan PAUD dan Dikmas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (https://www.paketcdaring.com). Dengan pembelajaran Daring inilah nanti mereka akan mendapatkan ilmu pengetahuan kembali pada proses pendidikan nonformal yang akan sama penilaiannya dengan pendidikan formal, bahkan ketika proses Daring ini dilakukan dengan konsentrasi/khusu maka akan menjadikan warga belajar/peserta didik itu lebih muncul di permukaan apalagi didukung dengan kursus dan keterampilannya.

Maka untuk meningkatkan potensi sumber daya manusia yang akan tertimbun pada anak yang tidak sekolah, dan inilah bahwa kebersamaan kita sebagai pegiat pendidikan dan sosial yang ditunggu-tunggu oleh mereka bagi yang masih berminat sekolah. Sebagai panduan kebersamaan itu mari kita menyampaikan rekomendasi/solusi terhadap penanganan anak yang tidak sekolah, rekomendasi ini diantaranya adalah: pertama, melibatkan pegiat pendidikan dan sosial di tingkat bawah yaitu desa ataupun kelurahan untuk membantu pendataan yang ATS (anak tidak Sekolah) supaya lebih akurat sekaligus merekrut agar mereka mau masuk/kembali belajar ke bidang kesetaraan/pendidikan nonformal.

Kedua, disediakan dana/anggaran khusus untuk identifikasi dan pendataan. Ketiga, dibentuk tim khusus untuk mengidentifikasi dan pendataan mulai dari tingkat kabupaten sampai ke desa-desa (dinas pendidikan dan kebudayaan kab. Subang, satuan pendidikan Nonformal Sanggar Kegiatan Belajar Sekolah Nonformal Negeri Subang, camat (Kasi Kesra), kades, Babimas Polri dan babinsa TNI) se-Kabupaten Subang.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here