Beranda Opini Inovasi dan Diversifikasi Untuk Meningkatkan Produksi Pangan

Inovasi dan Diversifikasi Untuk Meningkatkan Produksi Pangan

13
0

Oleh : Ridho Budiman Utama

Anggota Komisi II DPRD Jawa Barat

Besarnya jumlah penduduk di tanah air menjadi tantangan tersendiri yang harus dihadapi oleh pemerintahan saat ini maupun pemerintahan yang akan datang. Pesatnya pertumbuhan jumlah penduduk yang tidak diimbangi dengan peningkatan produksi pangan mengakibatkan negeri berpenduduk lebih dari 280 juta jiwa ini dikhawatirkan akan mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan pangan bagi warganya di masa yang akan datang. Alih – alih menjadi berperan menjadi negara yang berperan sebagai lumbung pangan dunia, kedaulatan (pangan) Indonesia justru tengah dipertaruhkan akibat ketidakmampuan pengambil kebijakan di negeri ini dalam mengelola bidang pangan secara (lebih) profesional.

Itulah yang dapat penulis simpulkan saat membaca data terkait jumlah produksi padi serta ketersediaan lahan di Jawa Barat yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) beberapa waktu lalu. Di tengah pertumbuhan jumlah penduduk Jawa Barat yang begitu tinggi, luas sawah yang tersedia justru kian menyempit dan berdampak pada menurunnya jumlah produksi padi. Pada tahun 2008 yang lalu, luas lahan yang dapat dipanen mencapai 1.803.628 hektar dengan jumlah produksi sebesar 10.111.064 ton. Namun, 10 tahun berlalu atau pada tahun 2018 yang lalu luas lahan yang menghasilkan padi hanya seluas 1.691.725 hektar dengan kapasitas produksi sebesar 9.539.330 ton. Pesona Jawa Barat sebagai salah satu lumbung padi nasional pun dikhawatirkan kian memudar seiring menurunnya jumlah produksi pangan yang dihasilkan.

Jika kita teliti lebih jauh, penurunan jumlah produksi pangan yang terjadi di Jawa Barat dan juga di daerah – daerah lainnya pada dasarnya disebabkan oleh alih fungsi lahan yang semakin tidak terkendali. Proyek – proyek strategis yang dilaksanakan oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah maupun swasta tentunya memerlukan lahan yang tidak sedikit. Ironisnya, lahan yang digunakan tak jarang merupakan lahan – lahan subur dan produktif yang selama ini berperan sebagai penghasil pangan. Dalam pelaksanaannya, Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang seharusnya dijadikan rambu – rambu dalam pelaksanaan pembangunan pun  kerap kali diabaikan begitu saja. Kondisi ini diperparah dengan sikap sebagian pemilik lahan yang tergiur dengan harga jual lahan yang sangat tinggi tanpa memikirkan  lebih jauh masa depan anak cucu mereka. Para pemilik lahan tersebut tak perlu berpikir panjang manakala terjadi kecocokan harga antara kedua belah pihak.

Kurangnya perhatian pemerintah terhadap kondisi lahan pertanian di tanah air pada akhirnya menempatkan Indonesia pada posisi yang cukup sulit. Ketidakmampuan pemerintah dalam memenuhi kebutuhan pangan bagi warganya pada akhirnya mengakibatkan ketergantungan kepada negara lain. Kondisi tersebut rupanya ditangkap sebagai peluang oleh para pihak – pihak tertentu untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar – besarnya sekalipun merugikan kepentingan para petani lokal. Import beras yang dilakukan menjelang masa panen dan dalam jumlah yang melebihi kebutuhan merupakan pukulan berat bagi para petani lokal yang selama ini mengandalkan mata pencahariannya dari berladang.

Menurunnya jumlah produksi pangan sebagaimana digambarkan oleh BPS di awal paragraf merupakan ancaman serius bagi kedaulatan pangan kita. Untuk itu diperlukan langkah – langkah strategis dalam menghadapi ancaman kekurangan pangan di masa yang akan datang. Adapun inovasi di bidang pertanian menjadi sebuah keniscayaan dalam upaya meningkatkan kualitas dan kuantitas pangan yang dihasilkan. Inovasi tersebut dapat dilakukan dalam bentuk penggunaan teknik bercocok tanam yang lebih modern, peremajaan alat – alat pertanian, sampai dengan penggunaan bibit unggul. Tak sampai disitu, penelitian dan pengembangan lebih lanjut tentang benih unggul pun yang harus digunakan saat bertanam pun perlu terus dilakukan di samping meningkatkan upaya pencegahan terhadap penyakit atau hama tanaman yang ramah lingkungan. Untuk itu peran balai – balai penelitian serta kalangan akademisi pertanian pun sangat diharapkan dalam membantu aktivitas para petani.

Selain melakukan inovasi secara berkelanjutan, diversifikasi pangan menjadi hal yang sangat penting untuk menjaga ketersediaan pangan di masa yang akan datang. Apa yang terjadi di Pulau Jawa pada awal abad ke – 20 sudah selayaknya menjadi pelajaran berharga bagi kita untuk menghadapi berbagai kemungkinan yang terjadi. Surat kabar De Grondwet yang terbit pada tanggal 8 April 1902 memberitakan, kelaparan di Pulau Jawa khususnya Jawa Tengah merupakan hal yang lumrah sekaligus ironi. Pulau Jawa sebagai daerah yang dikenal dengan tanahnya paling subur di dunia justru tidak dimanfaatkan dengan sebaik – baiknya pada saat itu. Dalam surat kabar tersebut juga disebutkan bahwa penyebab utama terjadinya bencana pangan saat itu adalah karena masyarakat yang terlalu bergantung pada ketersediaan beras dalam memenuhi kebutuhan pangan mereka. Akibatnya, saat terjadi gagal panen akibat banjir, kemarau, letusan gunung berapi dan lainnya mereka pun kesulitan untuk mencari makanan pengganti.

Program diversifikasi pangan sendiri sebenarnya sudah diatur dalam Undang – Undang Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pangan. Implementasi di lapangan pun sudah dilakukan. Sayangnya, upaya yang dilakukan masih bersifat sporadis dan tidak sistematik sehingga hasilnya pun masih jauh dari harapan. Padahal, jika upaya diversifikasi pangan tersebut dilakukan, masyarakat tidak akan menghadapi kesulitan manakala ketersediaan beras berkurang di pasaran. Beragam produk pangan yang mengandung karbohidrat seperti tepung, gandum, sagu dan yang lainnya sebenarnya memiliki prospek yang baik apabila dikembangkan secara serius. Dalam konteks ini, political will dari pengambil kebijakan di tingkat pusat dan daerah menjadi pra syarat terselenggaranya upaya mewujudkan ketahanan pangan tersebut. Di samping itu merubah pola pikir masyarakat agar tidak selalu bergantung pada satu jenis pangan pun merupakan hal yang perlu untuk dilakukan. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here