Beranda Headline Begini Kronologis Bayi Anak Asda I KBB yang Sempat Tertukar di RSCK

Begini Kronologis Bayi Anak Asda I KBB yang Sempat Tertukar di RSCK

178
0
DIKELUHKAN: Pelayanan Rumah Sakit Cahya Kawaluyaan (RSCK) di Kotabaru Parahyangan-Padalarang dinilai buruk, karena kurang menyenangkan. EKO SETIONO/PASUNDAN EKSPRES

BANDUNG-Buruknya pelayanan Rumah Sakit Cahya Kawaluyaan (RSCK) di Kotabaru Parahyangan-Padalarang, dikeluhkan Asisten 1 Bidang Tata Pemerintahan Kabupaten Bandung Barat (KBB) H. Aseng Djunaedi.

Sepekan lalu, istri Aseng bernama Ayi Ratna Kristiani (35) melahirkan bayi buah cinta mereka di RSCK. Selama mendapat perawatan di rumah sakit tersebut, Ayi mengaku mendapat pelayanan yang kurang menyenangkan. Mulai sikap perawat yang kurang ramah, lalu harus menunggu lama di ruang Intalansi Gawat Darurat (IGD) hingga bayinya sempat tertukar dengan bayi orang lain.

Seperti diceritakan pada wartawan, pada Kamis (7/3) sore Ayi masuk RSCK setelah mengalami kontraksi. Ia masuk rumah sakit dengan menggunakan layanan BPJS kesehatan. “Saya masuk IGD sekitar jam tigaan (15.00 wib). Tapi masuk ruang rawat inap pas magrib dan melahirkan Jum’at (8/3) jam 09.40. Bayinya laki-laki,” ujarnya.

Sehabis melahirkan Ayi tidak langsung bisa memangku bayinya. Bayi itu disimpan di ruang berbeda. Baru pada jam 17.09 WIB, bayi itu di bawa ke ruangannya. Seketika ia mengambil bayi itu dan menyusuinya. Namun naluri keibuannya sangat kuat, disaat menyusui anak itu ada keanehan.

“Saya perhatikan anak itu, kok kulitnya agak gelap dan tiba-tiba saja tangan anak itu keluar dari balutan. Saya lihat gelang ditangannya bukan nama saya dan Bapak (Aseng). Jam kelahirannyapun berbeda,” terang Ayi.

Ternyata bayi itu memang tertukar. Seketika Ayi mengaku shok dan tubuhnya lemas. “Saya benar-benar shock ternyata bayi yang saya susui itu bukan anak kami,” tuturnya.

Hal itupun dibenarkan Aseng. Ia menyatakan kaget ketika buah hatinya sempat tertukar. “Sewaktu si ade (bayi) dibawa sama suster, pantas saja merasa ada yang ganjil. Kok bisa ya, rumah sakit sekelas RSCK ini keliru begitu,” ucapnya kesal.

BACA JUGA:  Maksimalkan Pelayanan Publik, Wujudkan Jawara Nagara

Kekesalan Aseng terhadap layanan RSCK tersebut memuncak kembali ketika kedatangannya yang kedua kalinya untuk berobat bayinya. Dijelaskan Aseng, istri dan bayinya bisa pulang ke rumah Minggu (10/3). Namun karena kondisi kulit sang bayi berwarna kekuningan, Senin (11/3) dibawa lagi ke RSCK.

Disanalah puncak kekesalan Aseng, karena selama berjam-jam sang bayi belum juga dibawa ke ruang perawatan. Sang bayi masih disimpan di ruang IGD. Ia beberapa kali menanyakan itu ke dokter dan perawat jaga namun kurang ditanggapi.

“Katanya nggak ada kamar dan sedang dipersiapkan di kamar 3207. Saya cros chek ke ruangan. Ternyata sudah kosong karena memang pada saat sebelum saya nyebut pasien BPJS,” bebernya.

Aseng juga menyampaikan pada dokter jaga tentang hasil laboratorium, anaknya perlu segera perawatan. Semestinya cepat ditangani. Tapi harus lama menunggu lagi. Karena kesal kurang mendapat pelayanan akhirnya bayinya dipindahkan ke Rumah Sakit Advent Bandung untuk mendapat perawatan sebagaimana mestinya. Hingga berita ini diturunkan, bayinya telah kembali ke rumahnya.

Hanya yang disesalkan Aseng, dokter jaga yang mengabaikannya tidak menunjukan itikad baik. Malahan pihak RSCK memberikan utusan menemui istrinya di Rumah Sakit Adven, dengan menawarkan perawatan kembali di RSCK dengan dijemput ambulan.

“Istri saya tentu saya menolaknya, karena terlanjur kecewa dan khawatir malah mengganggu kesehatan si ade. Lagian ngapain juga mereka hanya memberikan utusan. Bukan dokter jaga itu yang minta maaf. Ya tentu saja kita tolak,” ungkapnya.

Jika dilihat dari prosedur penanganan pasien seperti itu kata Aseng, ada beberapa hal yang melanggar standar operasional (SOP) dari pelayanan RSCK tersebut. Mulai dari penanganan pasien hingga ke luar dari rumah sakit. Biasanya ada formulir yang harus diisi pasien tentang kesan pesan terhadap pelayanan Ini tak ada. Padahal saya tahu itu, karena saya juga pernah jadi Direktur RSUD Ciereng Subang, jadi tahu SOP,” ucapnya.

BACA JUGA:  Tingkatkan Pelayanan, Terminal Subang Akan Berlakukan Sistem e-Ticketing

Terkait tuntutannya, Aseng mengatakan dengan tegas demi perbaikan pelayanan di SRCK, ia meminta agar dokter itu dipecat saja.

Terpisah, Kepala Humas dan Pemasaran Rumah Sakit Cahya Kawaluyaan, Erlinawati mengatakan kejadian yang menimpa keluarga Aseng adalah ketidaksengajaan. Sebab, kata dia, pada dasarnya pihak RSCK selalu mengutamakan pelayanan terbaik kepada seluruh pasien seperti yang diamanatkan pihak yayasan yang menaungi RSCK Padalarang.

“Tapi pada perjalanannya harapan tidak selalu mulus dan lancar. Mungkin karena saat itu situasi di IGD sedang banyak sekali pasien. Ada 30 sampai 40 pasien. Mungkin dengan situasi seperti itu, terjadilah seperti yang menimpa Pak Aseng,” kata Erlina.

Ia memastikan seluruh aspek pelayanan di RSCK memiliki SOP atau prosedur yang jelas. Namun, pada kasus yang menimpa Aseng dan istrinya, kata diam ada sesuatu yang berada di luar kontrol dan pengawasan manajemen.

“Kami akui ada prosedur yang tidak berjalan atau ada satu fase SOP yang terlewatkan atau tidak dilakukan. Hal ini akan menjadi masukan berharga bagi kami. Ini jadi PR (pekerjaan rumah) manajemen buat membenahi,” ujar Erlina.(eko/vry)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here