Beranda Opini Masyarakat Melek Politik

Masyarakat Melek Politik

71
0

Oleh : Christina Ester M Hutabarat

Alumni Pascasarjana ITB Bandung
Aktif dalam Komunitas Sosial di Bandung

Pemilu sudah di depan mata. Kampanye-kampanye yang dilakukan pasangan calon presiden dan wakil serta DPR, DPD, dan DPRD sudah marak memenuhi ibukota sampai pelosok negeri. Tidak mengherankan kalau akhirnya ada banyak berita di media elektronik dan cetak yang secara blak-blakan membahas politik. Bisa dikatakan bahwa masyarakat begitu antusias dalam menyambut pesta rakyat yang tinggal hitungan beberapa hari lagi. Jadi didapati kalau masyarakat pun sudah sadar politik atau melek politik.

Dalam teori klasik yang dikemukan seorang Aristoteles, politik merupakan usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama. Terlibat dalam dunia politik bukan berarti menjadikan kita seorang yang “anarkis” karena sesungguhnya politik itu menjadi bagian penting dalam hidup bernegara, asal berada di jalur yang benar.

Masyarakat yang taat pada aturan berbangsa dan bernegara ialah masyarakat yang memiliki perilaku politik yan melakukan hak dan kewajibannya dengan tepat guna membangun bangsa menjadi lebih baik. Melek politik membuat kita tidak canggung untuk berdiskusi dan mengikuti forum-forum yang membahas politik.

Berdasarkan informasi terbaru putusan atas perkara uji materi Pasal 350 ayat (2) Undang-undang Pemilu Nomor 7 tahun 2017, memungkinkan KPU untuk membentuk Tempat Pemungutan Suara (TPS) tambahan dan penambahan jumlah pemilih yang masuk kategori Daftar Pemilih Tambahan (DPTb). Komisi Pemilihan Umum (KPU) memberikan peluang bagi para pemilih yang memiliki beberapa kendala sehingga mengharuskan mereka untuk berpindah pemungutan suara (TPS) atau pindah memilih. Ketua KPU Arief Budiman menyampaikan bahwa layanan KPU untuk kondisi diatas akan diperpanjang sampai 10 April 2019. Keputusan pemerintah tersebut mengarah kepada satu kesempatan agar setiap orang bisa memilih tanpa terkecuali.

Perpanjangan waktu yang diberikan menunjukkan bahwa pemerintah berharap masyarakat antusias dalam menyelesaikan berkas dan sejenisnya untuk bisa menjadi pemilih. Selain itu, masyarakat diharapkan bekerjasama menyuarakan jangan GOLPUT dan pesta demokrasi SEHAT.

Ada sebanyak 20 partai politik yang akan maju untuk mendapatkan posisi kekuasaan dan kedudukan di pemerintahan pusat atau daerah yang terdiri dari 16 partai nasional dan 4 partai lokal. Untuk pasangan calon presiden dan wakil presiden pun sedang bertarung sehat dengan menyampaikan visi, misi, dan program yang akan dikerjakan setelah mereka terpilih nanti.

Kalau dipikir-pikir memang sudah seharusnya masyarakat antusias terhadap pemilu kali ini. Kenapa? Karena nasib bangsa ini ada di tangan kita semua. Jangan berbangga diri ketika kita hanya menjadi “berharap tanpa bersuara alias GOLPUT”. Pemerintah sudah sangat antusias dalam mempersiapkan pesta rakyat ini masakan kita hanya berdiam saat musik sudah dimainkan. Hal tersebut terlihat dengan mempermudah akses di seluruh pelosok masyarakat untuk bisa memilih.

Satu hari, saat saya dan rekan perantau sedang mengurus berkas A5 di salah satu KPU di Tangerang, kami cukup tercengang sekaligus haru. Padatnya KPU dengan para perantau yang begitu antusias mengurus A5 seolah-olah sedang berteriak lantang untuk menolak GOLPUT. Bahkan para asisten Rumah Tangga (ART) didampingi oleh nyonya dan tuan rumahnya datang dengan bersemangat mengurus A5. Kami yang melihat pemandangan kala itu hanya tersenyum dan bergumam “masyarakat sudah melek politik”.

Indonesia menjadi negara demokrasi yang mana warga negaranya memiliki hak dalam pengambilan keputusan yang dapat mengubah masa depan bangsa. Partisipasi masyarakat menjadi nilai penting yang selalu didukung dan didorong oleh pemerintah. Meminimalkan bahkan meniadakan GOLPUT dari ibukota sampai pelosok negeri menjadi tugas kita bersama sebagai warga negara. Bukan tentang seberapa lantang kita menyuarakan siapapun pilihan kita, melainkan kita pun harus lantang menyuarakan supaya tidak GOLPUT siapapun paslon pilihannya.

Maka sebagai masyarakat cerdas yang melek politik sudah waktunya beranjak dari diam dan coba untuk berbuat sesuatu. Mari memastikan bahwa kita sudah sah menjadi salah satu calon pemilih di pemilu nanti. Selain itu mari tetap menyuarakan dan menghimbau orang-orang di sekeliling kita unuk mau memilih.

Ingatlah bahwa satu suara sangat menentukan nasib bangsa ini kedepannya. Siapapun nanti yang terpilih, kita tidak akan menyesal karena sebagai rakyat yang taat kita sudah menggunakan hak dan kewajiban kita dengan tepat.
Melek politik berarti tidak GOLPUT dan melek politik berarti memastikan bahwa pemilu ini berjalan sehat.

Mari menanti pesta demokrasi yang hanya tinggal beberapa hari lagi, mari meramaikan dan mari menjadi pemilih cerdas. Ingat, masih ada waktu untuk mengenali calon yang ada, cari info sebanyak-banyaknya dan cobalah menggunakan hak pilih dengan bijak. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here