Beranda Opini Pentingnya Pendidikan Mengenai Cyberculture

Pentingnya Pendidikan Mengenai Cyberculture

17
0

Oleh : Ilham Akbar

Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial, Ilmu Politik dan Ilmu Hukum (FISIPKUM) Universitas Serang Raya

Belum lama ini dunia pendidikan di Indonesia harus merasakan duka yang sangat mendalam, dikarenakan kasus bullying yang menimpah siswi SMP yang bernama Audrey. Ia di bully oleh para siswi SMA yang memang tidak menyukai perilaku dari Audrey. Kini para pelaku yang membully Audrey tersebut telah mengakui kesalahannya, dan pada saat ini juga para warganet beramai-ramai menandatangani petisi untuk Audrey.

Selain menandantangani petisi, dukungan terhadap Audrey pun telah bermuara kepada tagar JusticeforAudrey yang sudah menjadi trending topic di media sosial Twitter. Kasus bullying yang menimpah Audrey ini berawal dari konflik di media sosial, di mana para pelaku awalnya sering menerima ejekan dari Audrey, sehingga para pelaku pun tidak bisa membendung amarahnya, dan memillih untuk melakukan kekerasan terhadap Audrey.

Peristiwa tersebut bukan sebuah peristiwa yang bisa dianggap sebagai peristiwa yang sepele, karena peristiwa bullying yang menimpah Audrey merupakan peristiwa yang harus menjadi bahan evaluasi bagi para pelajar, maupun bagi para guru di Indonesia. Bullying yang pada saat ini menimpah Audrey merupakan bullying yang disebabkan karena tidak cerdasnya para pelajar dalam menggunakan media sosial. Tentu saja kini media sosial sudah menjadi tempat bagi para pelajar untuk memperlihatkan eksistensinya, dan kini dengan adanya media sosial, mereka menjadi seseorang yang bebas berekspresi, dan bebas berpendapat tanpa memikirkan apa yang akan terjadi kepada mereka.

Bahkan kebebasan yang dilakukan oleh para pelajar di media sosial pada saat ini sudah dianggap sebagai hal yang sangat wajar. Kini para pelajar sudah menganggap bully merupakan hal yang paling disukai, jika temannya dianggap tidak menyenangkan, atau dianggap sebagai teman yang tidak ada gunananya sama sekali. Oleh karena itu, aktivitas yang dilakukan oleh para pelajar di media sosial, pada akhirnya akan membentuk suatu budaya di media siber, atau yang disebut dengan cyberculture.

Kini budaya tersebut sudah bersarang di dalam benak para pelajar, sehingga budaya tersebut sangat sulit untuk dihilangkan begitu saja. Nahasnya lagi, ketika para pelajarnya selalu menghalalkan segala cara untuk eksis di media sosial, ternyata sekolah tidak bisa mengendalikan kebebasan para pelajarnya yang dilakukan di media sosial tersebut. Sekolah hanya peduli terhadap siswa-siswi yang mempunyai prestasi dalam bidang tertentu saja. Karenanya dalam hal ini, untuk mengatasai persoalan tersebut, maka sekolah harus mengutamakan pendidikan mengenai cyberculture dalam melakukan kegiatan belajar mengajar.

Mengenal Cyberculture

Budaya siber atau cyberculture beranjak dari fenomena yang muncul di ruang siber serta media siber. Melalui medium internet, pembentukan budaya siber berlangsung secara global dan universal. Di internet, pada dasarnya komunikasi dan/atau interaksi yang terjadi memakai medium teks, secara langsung hal ini akan memengaruhi bagaimana seseorang mengomunikasikan identitas dirinya di kehidupan virtual (virtual life) dan setiap teks menjadi semacam perwakilan dari setiap ikon diri dalam penampilan diri (Nasrullah, 2014: 140-143).

Melihat fenomena ini, manajemen kesan atau impression management dikembangkan Goffman untuk menggambarkan bahwa dalam penampilan diri sering kali individu ketika menjalani perannya di tengah masyarakat melakukan sesuatu untuk menampilkan kesan tergantung dari, apa yang disebut Goffman sebagai, “setting” dan “audience;” bahwa ketika individu melakukan manajemen kesan, maka individu akan berlaku secara sadar maupun tidak menampilkan citra yang diinginkannya dan berharap orang lain akan terkesan dengan apa yang telah dilakukan itu (Goffman, 1959/1990: 2, dalam Nasrullah, 2014: 144).

Berkaitan dengan manajemen kesan yang dikembangkan oleh Goffman, maka sangatlah tepat bahwa para pelajar yang ada di negeri kita merupakan pelajar yang sangat senang untuk menampilkan citra positif dirinya di media sosial. Tentu saja, para pelajar akan menampilkan dirinya seolah-olah dia adalah yang paling cantik, paling tampan, dan paling benar sendiri, sedangkan orang lain adalah paling buruk rupa, dan selalu salah.

Pada akhirnya perilaku tersebut lah yang menyebabkan para pelajar saling melakukan bully. Media sosial memang akan membuat para pelajar menjadi tuhan yang tidak bisa di bantah sama sekali, sekalipun yang membantah adalah teman satu sekolahnya atau bahkan para guru di sekolahnya.

Maka dari itu, sekolah harus mengenal cyberculture yang pada saat ini sudah mendoktrin para pelajar untuk menjadi seseorang yang tidak mau kalah. Sekolah harus benar-benar menemukan solusi terbaik untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Jangan biarkan para pelajarnya saling melakukan bully antara satu sama lain. Karenanya, sekolah jangan hanya mendidik siswa-siswinya untuk selalu menguasai pelajaran yang diwajibkan saja, tetapi juga sekolah harus mendidik agar para siswa-siswinya mempunyai kecerdasan dalam menggunakan media sosial.

Jangan Meremehkan Cyberculture

Pristiwa yang menimpah Audrey merupakan peristiwa yang awalnya meremehkan cyberculture. Karenanya dalam hal ini, sudah seharusnya para guru mengajak siswa-siswinya untuk cerdas dalam menggunakan media sosial, bahkan yang lebih bagus lagi, cyberculture sebaiknya dijadikan mata pelajaran bagi para siswa-siswinya, agar lebih mengerti bahwa dunia virtual merupakan dunia yang palsu, dan tidak patut untuk dijadikan tempat untuk membenci seseorang. Oleh karena itu, peristiwa yang menimpah Audrey, semoga menjadi peristiwa yang terakhir kalinya terjadi di negeri ini. Jangan biarkan media sosial menjadi tempat untuk melakukan bullying. Mulai dari saat ini, marilah kita cerdas dalam menggunakan media sosial. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here