Beranda Opini Gerebek Sahur atau Gerobak Sahur?

Gerebek Sahur atau Gerobak Sahur?

51
0

Oleh:Ghaisani Fildzah Amajida
Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, UPI, Bandung

(Kesantunan Berbahasa Pemuda Subang dalam Pelestarian Tradisi)

Ramadan memang bulan istimewa. Ada banyak tradisi unik yang hanya bisa ditemui pada Ramadan. Tradisi khas Ramadan itu diantaranya ngabuburit, mudik, beli baju lebaran, berbagi makanan buka, sahur on the road, juga gerebek sahur. Ikut serta dalam tradisi-tradisi khas Ramadan, bukan hanya akan mendapatkan pengalaman religi, tapi juga pengalaman menyenangkan dan tak terlupakan.
Gerebek sahur, menjadi salah satu tradisi seru. Gerebek sahur merupakan kegiatan membangunkan warga untuk melaksanakan sahur. Anak-anak dan pemuda biasanya antusias melaksanakan gerebek sahur. Dini hari menjelang subuh, mereka berbondong-bondong berkeliling kampung sambil menabuh bedug dan bunyi-bunyian lain dari alat seadanya.

Ada yang unik pada gerebek sahur di Desa Sukajadi, Kab. Subang. Keunikan terletak pada seruan sahurnya yang tak biasa. Jika biasanya, para pemuda hanya berseru, “sahur sahur, sahur sahur”. Mereka membangunkan warga dengan seruan, “sahur sahur sahur subuh, mumpung masih ada waktu. Sahur sahur sahur subuh, mumpung masih ada waktu. Bapak Iyos, anu bageur, dikopian, dikuehan [Bapak Iyos (menyebut nama warga), yang baik, pake kopi, pake kue]. Heuy! Sahur sahur sahur subuh, mumpung masih ada waktu. Sahur sahur sahur subuh, mumpung masih ada waktu”.

Mereka berseru sambil bernyanyi sepanjang desa diiringi tabuhan bedug dan alat musik pukul seadanya. Seruan itu terus diulang, yang diganti hanya nama warga yang dituju. Setiap subuh, nama warga yang disebut selalu berganti. Nama warga yang sama akan disebut esok atau 2-3 subuh berikutnya.
Sekilas, wacana seruan sahur tersebut terlihat biasa. Diksi-diksi yang dipilih pun diksi sederhana. Namun jika dikupas, ada “keistimewaan” dalam wacana seruan sahur tersebut. Ada makna terselubung di dibalik seruan tersebut.

Pisau pengupas yang akan digunakan yakni pragmatik. Pragmatik mempelajari penggunaan bahasa dalam komunikasi manusia yang ditentukan oleh kondisi masyarakat (Mey, 2001, hlm. 6). Pragmatik adalah studi tentang makna pembicara; studi tentang makna kontekstual; studi tentang bagaimana lebih banyak dikomunikasikan daripada yang dikatakan (Yule, 1996, hlm. 3). Maka dapat diambil garis lurus bahwa pragmatik adalah ilmu tentang wacana (komunikasi), konteks wacana, dan makna mendalam dibalik wacana. Oleh karena itu, pragmatik dapat dijadikan pisau tajam untuk mengupas makna seruan sahur terkait.

Wacana seruan tersebut dituturkan oleh sekelompok pemuda kepada warga setempat, pada dini hari di bulan Ramadan, dengan tujuan membangunkan warga untuk makan sahur. Berikut makna dibalik seruan sahur tersebut.

Kalimat 1: sahur sahur sahur subuh, mumpung masih ada waktu. Kalimat pertama ini mengandung deiksis. Deiksis adalah istilah untuk menunjukkan suatu makna di luar kata atau kalimat yang dituturkan gamblang. Deiksis yang terdapat dalam kalimat pertama yakni deiksis temporal yang menandakan “sekarang”. Sehingga tuturan tersebut bermaksud memberitakukan bahwa sekarang, waktu sudah subuh. Selain deiksis, kalimat pertama juga mengandung ilokusi. Ilokusi adalah tuturan yang mengharapkan respon atau tindakan dari orang yang mendengar tuturan itu. Ilokusi kalimat pertama yakni para pemuda (penutur) berharap warga (petutur) bangun sekarang juga untuk melaksanakan sahur.

Kalimat 2: sahur sahur sahur subuh, mumpung masih ada waktu. Kalimat kedua mengandung deiksis dan ilokusi yang sama dengan kalimat pertama. Tuturan ini dituturkan kembali karena khawatir tujuan belum tersampaikan karena petutur masih terlelap, juga untuk mempertegas.

Kalimat 3: Bapak Iyos, anu bageur, dikopian, dikuehan [Bapak Iyos (menyebut nama warga), yang baik, pake kopi, pake kue]. Pada kalimat ketiga terjadi alih kode (alih bahasa) menjadi bahasa Sunda. Kalimat ketiga ini menjadi kalimat paling menarik. Jika dimaknai secara lurus, para pemuda seakan berujaran bahwa warga yang disebutkan namanya, sahur dengan minum kopi dan makan kue.
Kalimat ketiga merupakan tuturan ilokusi. Pemuda (penutur) berharap agar warga yang disebutkan namanya memberikan “kopi” dan “kue”. Secara struktur, tuturan ini termasuk tuturan langsung tak literal. Para pemuda meminta kopi dan kue, namun kopi dan kue yang dimaksud sebenarnya tak melulu kopi dan kue. Kopi dan kue telah menjadi sebutan lain untuk uang.

Hal ini diperkuat oleh terjadinya alih kode dari bahasa Indonesia ke bahasa Sunda. Pada konteks ini, ada dua alasan mengapa terjadi alih kode. Pertama karena rasa hormat kepada mitra tutur yang lebih tua. Kedua karena ada tujuan khusus, yakni meminta sesuatu. Alih kode juga menjadi salah satu indikator kesantunan berbahasa. Selain itu, penyisipan diksi “anu bageur” (yang baik), memiliki daya tutur yang kuat dalam adu rayu.

Kalimat 4: Heuy! Kalimat seru ini sebagai ujaran penyemangat dan penghangat suasana pemuda saat berkeliling desa.

Kalimat 5 & 6: sahur sahur sahur subuh, mumpung masih ada waktu. Kalimat kelima mengandung deiksis dan ilokusi yang sama dengan kalimat pertama. Tuturan ini dituturkan kembali sebagai penutup, sebelum mereka beralih ke nama dan rumah warga selanjutnya.

Angka pada tahun hijriah terus bertambah, teknologi kian canggih. Alarm-alarm gawai lambat laun merenggut tradisi-tradisi Ramadan yang bermakna sosial dalam. Rasa salut tiba-tiba tersulut pada pemuda-pemuda desa yang masih mau melestarikan tradisi.

Kacamata lain memandang dan bertanya, di mana nilai sosialnya jika meminta imbalan. Gerebek sahur atau gerobak sahur berisi kumpulan pemberian kopi dan kue? Hal ini perlu disikapi bijak. Penyebutan nama warga secara langsung, bagi sebagian warga mungkin sedikit mengintimidasi. Walau begitu, sepanjang hal ini bersifat sukarela, sah-sah saja. Pemilihan kalimat pada seruan sahur, terutama kalimat ketiga dinilai sangat bijak. Alih kode dan diksi adu rayu yang memuat deiksis serta ilokusi tersebut mencerminkan kesantunan berbahasa. Bukankah dewasa ini kesantunan berbahasa generasi penerus banyak dipertanyakan? Kesantunan berbahasa, pelestarian tradisi, dan kreativitas penciptaan seruan sahur unik oleh pemuda-pemuda tentu perlu diapresiasi.(*)

Ghaisani Fildzah Amajida
Seorang mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, UPI, Bandung.
Penggiat literasi, penulis esai, dan pemburu lomba karya tulis ilmiah. Esai dan KTI telah membawanya terbang dan menumpang bemacam gerbong kereta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here