Beranda Opini Literasi Anak Tumbuh di Keluarga

Literasi Anak Tumbuh di Keluarga

87
0

Oleh: Mega Elisa Hasyim, S.Ked

Alumni S1 Pendidikan Kedokteran Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta.

Anak adalah generasi yang dipersiapkan menjadi penerus bangsa. Untuk dapat menjadi pemimpin terlebih dahulu harus dapat memimpin diri sendiri. Oleh karena itu pendidikan karakter pada anak perlu ditanamkan sedini mungkin.

Pendidikan dalam keluarga menjadi pondasi dalam berpikir dan bersikap di masyarakat. Salah satu yang perlu ditanamkan dalam pendidikan keluarga adalah pendidikan literasi. Dapat membaca, menulis dan berhitung bukanlah tujuan utama, namun salah satu landasan dalam memperoleh tujuan yang lebih luas yaitu mewujudkan generasi yang mampu berpikir dan bersikap kritis dan logis.

Namun pada kenyataannya minat baca masyarakat Indonesia, khususnya anak-anak masih sangat rendah. Menurut World’s Most Literate Nations Ranked pada tahun 2016 terhadap minat baca di 61 negara, minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001 persen atau menempati peringkat ke-2 terendah setelah Botswana, Afrika Selatan. Sedangkan minat baca tertinggi adalah negara Finlandia.

Minat baca anak Indonesia juga tak kalah rendah yaitu 0,01 persen atau hanya 1 dari 10.000 anak suka membaca. Lagi, berdasarkan data Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD) yang dirilis pada tahun 2016, kemampuan membaca, berhitung dan pengetahuan sains anak Indonesia berada di bawah Singapura, Vietnam, Malaysia dan Thailand. Menurut penelitian The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organizatio (UNESCO) pada tahun 2014, rata-rata anak Indonesia hanya membaca 27 halaman buku per tahun. Berbeda dengan anak-anak di Finlandia yang rata-rata membaca 300 halaman dalam waktu lima hari.

Kenyataan demikian sungguh memilukan. Indonesia bukanlah negara yang terbelakang. Dalam beberapa aspek Indonesia lebih unggul dibandingkan beberapa negara lain. Namun tingkat literasi perlu menjadi perhatian bersama. Rendahnya minat literasi anak mengakibatkan kurangnya ide dan pendapat dalam berargumentasi secara kreatif dan inofvatif. Akibat lebih parahnya kelak anak tidak mampu mengatasi masalah sosial, politik, ekonomi, dan budaya di dalam masyarakat selama kurangnya ilmu pengetahuan yang dimiliki.

Tempat pendidikan pertama bagi anak adalah keluarga. Oang tua berperan sebagai guru dan partner diskusi pertama bagi anak. Namun sebagai role model, sebagian besar orang tua di Indonesia belum bisa menjadi model yang baik dalam kegiatan literasi dini. Sebagian besar orang tua lebih senang menonton televisi dari pada membaca buku. Sehingga tidak heran jika anak mengadaptasi kebiasaan orang tua.

Menurut teori sosiokultural, anak dapat belajar cepat dari lingkungan. Ketidaktersediaan buku di rumah hingga kurangnya quality time bersama anak karena orang tua sibuk bekerja juga menjadi alasan mengapa orang tua kurang mengembangkan kegiatan literasi pada anak.

Hal ini diperparah dengan keberadaan gadget terutama smartphone. Orang tua lebih memilih memperkenalkan smartphone di usia dini dibandingkan buku. Sehingga tidak sedikit anak lebih tertarik bermain smartphone dibandingkan kegiatan literasi.

Menurut survei yang dilakukan The United Nations Children’s Fund (UNICEF) pada tahun 2014 Indonesia berada pada peringkat lima besar negara pengguna gadget, khususnya smartphone. Bila dilihat dari komposisi usia, pengguna gadget kategori anak dan remaja di Indonesia cukup tinggi yaitu 79,5 persen. Hal ini sangat berbanding terbalik dimana Indonesia yang menduduki peringkat tinggi dalam penggunaan gadget namun berada pada peringkat yang rendah dalam literasi.

Sekolah juga turut andil dalam rendahnya minat literasi anak. Selama menempuh pendidikan dasar selama 12 tahun, anak hanya perlu membaca sekilas buku pelajaran dan lulus dalam ujian untuk tamat sekolah. Kurikulum yang tidak tegas mencantumkan kegiatan literasi sebagai kewajiban menyebabkan setelah tamat sekolah pun kebiasaan litersi anak masih kurang.

Hal ini diperparah dengan tidak tersedianya perpustakaan umum di beberapa kota di Indonesa. Hal ini dibuktikan berdasarkan hasil sensus perpustakaan yang dilakukan Perpustakaan Nasional RI (PNRI) pada tahun 2018, dimana rasio ketersediaan perpustakaan di Indonesia masuk ke dalam kategori kurang mencukupi. Koleksi buku di perpustakaan di Indonesia juga belum mencukupi. PNRI juga mengungkapkan tingkat kunjungan perpustakaan di Indoneisa jauh dari ideal yaitu hanya 0,02% penduduk yang mengunjungi perpustakaan per hari.

Kita sudah mengetahui betapa rendahnya literasi anak Indonesia. Perbaikan literasi harus segera dilakukan. Sejumlah pihak seperti pemerintah, sekolah, serta keluarga harus turut andil. Meskipun membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk menjadikan literasi sebagai budaya anak Indonesia, kita harus tetap optimis peringkat minat literasi anak Indonesia dapat meningkat dibandingkan peringkat tahun sebelumnya.

Pertama, pemerintah khususnya pemerintah daerah harus berupaya menggagas program satu kecamatan satu perpustakaan untuk membantu meningkatkan minat baca anak. Karena perpustakaan adalah salah satu bentuk investasi bangsa. Selain itu pemasangan iklan untuk memotivasi kegiatan literasi anak perlu digencarkan. Dalam memperingati hari anak nasional yang diperingati setiap tanggal 23 Juli pemerintah dapat membagikan buku bacaan sesuai usia kepada anak anak.

Kedua, peran masyarakat. Saat ini sudah banyak komunitas-komunitas yang membagikan semangat budaya literasi kepada anak baik dalam bentuk perpustakaan keliling, menyediakan taman baca, menyerukan tagar di media sosial atau mendistribusikan buku bacaan. Alangkah baiknya jika komunitas-komunitas yang memiliki visi yang sama tersebut dapat dikoordinasi sehingga kegiatan yang dilakukan dapat terstruktur

Ketiga, memumbuhkan minat literasi anak di dalam keluarga. Yang mengambil peran terbesar dalam meningkatkan minat literasi anak adalah peran keluarga. Orang tua dapat memperkenalkan kebiasaan literasi dengan menciptakan suasana nyaman di rumah untuk membaca. Orang tua tidak hanya membelikan buku kemudian melepas begitu saja, tetapi juga mengajak anak bercerita kembali atau berdiskusi tentang isi buku. Namun hal tersebut harus sesuai dengan fase tumbuh kembang anak. Jika dipaksakan tidak akan efektif dan dapat menurunkan minat baca. Bagi anak yang belum dapat membaca, orang tua dapat membacakan bukunya dengan story telling. Selanjutnya setelah anak mulai dapat membaca sediakan buku dengan tulisan besar dan ilustrasi yang menarik.

Keempat, tidak memperkenalkan media hiburan televisi, playstation, atau gadget di usia dini. Di era globalisasi saat ini pasti dengan mudah kita dapat menemui media hiburan tersebut. Tidak perlu memperkenalkan sejak dini, cepat atau lambat anak akan mengenal media tersebut. Sebaiknya orang tua memperkenalkan budaya literasi daripada media hiburan terhadap anak di usia dini. Setelah minat literasi anak terpupuk selanjutnya anak akan mudah melakukan kegiatan literasi secara mandiri.

Peradaban suatu bangsa dipengaruhi oleh minat literasinya. Tentu saja kita semua perlu khawatir akan rendahnnya minat literasi anak Indonesia. Oleh karena itu setiap orang memiliki peran dalam meningkatkan minat literasi anak. Kunci dari perubahan besar berasal dari hal kecil yaitu memulai dari diri sendiri. Untuk menumbuhkan minat literasi pada anak dapat kita mulai dari diri sendiri terlebih dahulu. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here