Beranda Opini Memperkuat Hubungan Ekonomi dan Sosial Budaya Indonesia Baru

Memperkuat Hubungan Ekonomi dan Sosial Budaya Indonesia Baru

39
0

Oleh : Sulthon Sjahril

Pemerhati Hubungan Ekonomi Internasional, Alumnus S3 Program Studi Ilmu Ekonomi, Universitas Indonesia (UI)

Hubungan diplomatik antara Republik Indonesia dan Republik Peru secara resmi didirikan pada 12 Agustus 1975. Awalnya, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Brasilia diakreditasi untuk merangkap negara Peru. Selanjutnya, Pemerintah Indonesia membuka Kedutaan Indonesia di Lima pada tanggal 20 Februari 2002. Sedangkan, Pemerintah Peru membuka Kedutaan Besarnya di Jakarta pada tanggal 1 November 1992. Selama ini, dapat dikatakan hubungan diplomatik RI-Peru berjalan dengan baik dan bersahabat meskipun memang masih bersifat low politics karena dipandang belum memiliki kepentingan langsung dalam isu politik dan keamanan.

Dilihat dari perspektif sejarah, dibandingkan dengan beberapa negara Amerika Latin lainnya, Peru memang bukanlah salah satu dari teman lama Indonesia di wilayah Amerika Latin. Hubungan diplomatik Indonesia dengan negara sahabat di Amerika Latin dimulai pada tahun 1950. Pada saat itu, Presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno menjalin hubungan diplomatik dengan Brasil dan Meksiko (1953), Argentina (1956), Venezuela (1959), Kuba (1960), Bolivia (1963), Chili dan Uruguay (1965).

Negara-negara ini dikenal sebagai teman lama Indonesia di kawasan Amerika Latin. Pada era tersebut, hubungan bilateral kedua negara sangat hangat, namun sayangnya hubungan politik yang bersahabat ini tidak diikuti oleh penguatan hubungan kerjasama ekonomi dan sosial budaya. Hal Ini dapat dimengerti karena pada era tersebut, prioritas utama politik luar negeri RI lebih difokuskan pada kerjasama politik, khususnya, untuk mendapatkan pengakuan sebagai negara merdeka (berdaulat) pada masa dekolonisasi.

Namun perkembangan zaman terus berubah, memasuki era 1980an serta dengan berakhirnya perang dingin, hubungan kerjasama ekonomi semakin menonjol dan menjadi perhatian penting dalam politik luar negeri di berbagai negara, dan bahkan diplomasi ekonomi menjadi agenda prioritas global. Berbagai negara di belahan dunia berlomba-lomba untuk meningkatkan kerjasama ekonomi dengan negara mitranya demi mendorong pertumbuhan ekonomi serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Disinilah saya melihat mulai ada perhatian serta potensi titik temu kepentingan bersama dalam hubungan Indonesia dengan Peru, yakni meningkatkan hubungan kerjasama ekonomi kedua negara.

Indonesia dan Peru sangat aktif dalam mencari peluang kerjasama ekonomi dengan berbagai negara sahabat. Apalagi dengan situasi perlambatan perekonomian global selama beberapa tahun belakangan ini, harga komoditas dunia menurun serta perang dagang AS-Tiongkok yang semakin menambah pelik persoalan, kedua negara menjadi semakin terpicu secara pragmatis untuk meningkatkan kerjasama ekonomi dengan mitra non-tradisional dalam upaya untuk mendiversifikasi produk dan pasar demi mendongkrak kinerja ekspor.

Hingga saat ini, kedua negara memang banyak terfokus dalam menjaga hubungan ekonomi dengan mitra tradisionalnya, akan tetapi kedua negara ini telah melakukan serangkaian upaya untuk go beyond that demi menggarap hubungan ekonomi mereka dengan mitra non-tradisional.

Dalam kebijakan luar negeri Peru dengan “Look to the East Policy”, kawasan Asia Pasifik menjadi perhatian penting dan prinsip tersebut dicerminkan antara lain dengan sejumlah inisiatif kerjasama ekonomi seperti penandatanganan Free Trade Agreement (FTA), partisipasi aktif pada Asia Pacific Economic Cooperation (APEC), Forum for East Asia-Latin America Cooperation (FEALAC) serta Comprehensive and Progressive Agreement for Trans-Pacific Partnership (CPTPP).

Ditegaskan pada beberapa kesempatan bahwa di kawasan Asia Tenggara, Indonesia merupakan mitra penting Peru di masa yang akan datang. Peru menganggap Indonesia sebagai salah satu negara dengan perekonomian paling dinamis di Asia Tenggara, dengan jumlah populasi besar mencapai lebih dari 260 juta orang dan total PDB lebih dari US$1 triliun.

Dalam menjalankan roda diplomasi ekonomi, Peru terus menggeliatkan ekonomi pasarnya yang didukung dengan berbagai perjanjian perdagangan bebas dengan berbagai negara seperti Amerika Serikat, Tiongkok, Uni Eropa, Mercosur, Korea Selatan, Kanada, Kosta Rika, Jepang, Singapura, Kuba, Aliansi Pasifik dan Andean Community (CAN). Selain itu, Peru juga telah memiliki 26 perjanjian promosi bilateral dan perlindungan resiprokal terhadap investasi.

Sedangkan bagi Indonesia, Amerika Latin merupakan kawasan dengan potensi ekonomi yang cukup besar dan merupakan peluang yang dapat dimanfaatkan dalam meningkatkan hubungan kerjasama ekonomi serta tujuan untuk mendiversifikasikan portofolio produk ekspor dan memperluas pasar. Peru merupakan salah satu negara strategis di kawasan Amerika Selatan. Negara ini kaya akan potensi ekonomi dan tengah terlibat dalam peran yang lebih besar baik pada tataran regional maupun internasional. Peru memiliki populasi sebesar lebih dari 32 juta jiwa dengan PDB nasional lebih dari US$200 milyar serta pendapatan per kapita sekitar US$5400, lebih tinggi dari pendapatan per kapita penduduk Indonesia.

Di kawasan Amerika Latin, Indonesia baru menjalin kerjasama perdagangan bebas dengan negara Chili dengan skema Indonesia-Chile Comprehensive Economic Partnership Agreement (IC-CEPA) yang ditandatangani pada 14 Desember 2017 lalu serta satu inisiatif kerjasama perdagangan bebas, Indonesia-Peru Preferential Trade Agreement (IP-PTA) yang baru mau memasuki tahap perundingan (Joint Study Group IP-PTA rampung pada 17 November 2016). Tampak sekali bahwa Chili dan Peru dengan struktur perekonomian yang mirip ini sangat antusias dan saling bersaing dalam meningkatkan kerjasama ekonomi dengan mitra non-tradisional di kawasan Asia Pasifik (termasuk Indonesia) demi memperebutkan status menjadi pusat/hub perdagangan di kawasan Amerika Latin yang memang merupakan ambisi diplomasi ekonomi mereka. Selain itu, inisiatif IC-CEPA dan IP-PTA memang merupakan bagian dari strategi mereka untuk mendiversifikasi produk ekspor serta memperluas pasar di kawasan Asia Pasifik.

Dalam hubungan perdagangan RI-Peru, selama periode lima tahun terakhir (2014-2018), volume perdagangan RI-Peru tampak cukup fluktuatif. Pada tahun 2018, nilai perdagangan kedua negara sebesar US$278.57 juta dengan surplus perdagangan bagi Indonesia sebesar US$165.65 juta. Namun demikian, nilai perdagangan tersebut masih dibawah potensinya. Oleh karena itu, diharapkan inisiatif IPPTA dapat menjadi salah satu solusi untuk memperkuat hubungan perdagangan RI-Peru dengan saling membuka peluang bagi kedua negara untuk mengekspor produk unggulan masing-masing negara. Di satu sisi, Indonesia berpotensi untuk mengekspor minyak kelapa sawit, onderdil mobil, alas kaki, tekstil, karet alam, produk kayu, mebel, dan lainnya. Di sisi lain, Peru berpotensi mengekspor tembaga, tepung ikan, pakan ternak, anggur, gandum, dan pupuk ke Indonesia.

Selain itu, kedua negara juga terus berupaya mendorong peningkatan volume perdagangan bilateral dengan melakukan berbagai inisiatif seperti mendorong partisipasi sektor swasta dalam pameran dagang, kegiatan promosi dan pengenalan potensi ekonomi, dan kegiatan saling kunjung pengusaha kedua negara. Lebih lanjut, Indonesia dan Peru juga merupakan anggota badan dan forum kerjasama internasional seperti APEC, Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), Gerakan Non-Blok (GNB) dan FEALAC yang dapat dimanfaatkan tidak hanya untuk memperkuat hubungan ekonomi, akan tetapi juga kerjasama sosial-budaya, pendidikan dan ilmiah.

Bicara dalam aspek sosiokultural, sangat penting untuk meningkatkan people to people contact melalui kerjasama sosiokultural, pendidikan, dan ilmiah. Penting untuk menghubungkan kerjasama dalam bidang budaya, ilmiah dan sosial, meningkatkan interaksi dan visibilitas lintas sektor, dengan penekanan pada inisiatif khusus untuk keuntungan langsung kedua negara. Kedua negara harus mengadopsi semangat “kerjasama koperasi”, yang berarti menanamkan semangat kerjasama di tengah-tengah dunia yang kompetitif di era milenium ini.

Akhir kata, baik Indonesia dan Peru saat ini tengah berada dalam situasi ketidakpastian perekonomian global yang berdampak pada perlambatan perekonomian dunia, sehingga keduanya perlu melakukan serangkaian inisiatif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi mereka dan IPPTA dapat menjadi salah satu solusi dalam mengantisipasi tantangan ekonomi saat ini. Kedua negara telah merampungkan Joint Study Group IPPTA pada tahun 2016, namun hingga saat ini perundingan perdagangan belum terlaksana.

Diharapkan, kedua negara tetap berkomitmen untuk segera memulai dan menyelesaikan pembahasan kerjasama IPPTA tersebut mengingat potensi manfaat ekonomi yang diperoleh bilamana IPPTA terealisasi. Selain itu, tak kalah penting juga selain upaya inisiatif kerjasama ekonomi, perlu pula didorong kerjasama sosiokultural, pendidikan, dan ilmiah dalam rangka meningkatkan awareness dan people to people contact antar kedua negara.

Memang dalam upaya peningkatan kerjasama tersebut, tentunya akan terdapat sejumlah tantangan yang dihadapi oleh kedua belah pihak, diantaranya seperti faktor jarak yang cukup jauh antara Indonesia dengan Peru, biaya transportasi tinggi, serta perbedaan budaya dan penggunaan bahasa kerja. Namun mengingat manfaat potensi ekonomi yang dapat diraih oleh kedua negara nantinya, maka sudah sepatutnya Indonesia dan Peru bersama-sama berkomitmen untuk mendorong berbagai inisiatif kerjasama ekonomi dan sosiokultural tersebut. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here