Beranda Headline Ridwan Kamil dan Ustad Rahmat Debat Sengit, Pro Kontra Simbol Iluminati di...

Ridwan Kamil dan Ustad Rahmat Debat Sengit, Pro Kontra Simbol Iluminati di Masjid As-Safar

328
0
ANTUSIAS: Ratusan jamaah menghadiri diskusi tentang pro kontra simbol iluminati di Masjid As-Safar yang digelar di Masjid Pusdai Bandung, Senin (10/6). Hadir dalam acara itu Gubernur Ridwan Kamil dan Ustad Rahmat Baiquni. JABAR EKSPRES

Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil dan Ustad Rahmat Baequni akhirnya dipertemukan dalam diskusi yang digelar di Masjid Pusdai Kota Bandung pada Senin (10/6).

Diskusi yang digelar oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jabar itu, membahas persoalan Masjid Al Safar di KM 88 Tol Cipularang yang dituding sarat dengan simbol iluminati yang viral belum lama ini.

Dalam pemaparannya, Ustad Rahmat Baequni mengingatkan akan bahayanya fitnah akhir zaman, yakni Fitnah Dajjal. Menurutnya, fitnah ini akan masuk dalam semua sendi-sendi kehidupan. Oleh karenanya, mengutip Hadis Nabi, Rahmat menyarankan agar siapapun yang mengetahui fitnah ini, untuk segera menghindar.

“Fitnah Dajjal adalah sistem kehidupan. Demi Allah, tidak ada satu pun sistem kehidupan yang tidak tersentuh oleh fitnah Dajjal,” kata Rahmat.

Rahmat menjelaskan, fitnah Dajjal akan masuk melalui kerja zionis internasional, termasuk simbol-simbol dan desiain srsitektur. Ia mengatakan, jika simbol-simbol zionis ini dimasukan ke dalam Masjid, maka salat di dalam masjid tersebut tidak sah secara syari’h. Bahkan akan mengugurkan katuhidan ummat Islam.

“Dan Dajjal mewujudkan ambisinya lewat kerja zionisme internasional dan mereka menyatu dalam tiga ranah yaitu simbol, ritual, arsitektur,” jelas dia.

“Silakan, simbol-simbol itu dibangun di selain tempat ibadah. Tapi, haram hukumnya simbol itu ada di dalam masjid karena simbol itu akan membatalkan salat kita dan akan menggugurkan tauhid kita,” jelasnya.

Sementara itu, Ridwan Kamil pada kesempatannya, memaparkan, bukan saja Al-Safar yang ada segitiganya, namuan masih banyak segitiga di masjid-masjid lainnya. Seperti Masjid Trans Studio terdapat bentuk segitiga dengan lingkaran di tengah atau disebut mata satu.

Pria yang biasa disapa kang Emil ini mengatakan, tidak hanya di Masjid, namun simbol FPI juga terdapat segitiga. Emil meminta sikap konsisten.

BACA JUGA:  Penguatan Peran dan Pers untuk Mengoptimalkan Sosialisasi Program Pembangunan Pemerintah

“Kalau lingkaran segitiga enggak boleh maka kita harus konsisten bintang lima juga dilarang, apa yang terjadi? Maka semua lambang yang ada masjid dan bulan sabit maka harus dilarang. Berarti lambang Pancasila dilarang, lambang FPI dilarang itu kalau konsisten bentuk itu dilarang,” kata Emil yang disambut riuh hadirin.

“Saya minta keadilan saja kalau Al-Safar difatwakan seperti itu saya minta fatwanya masjid Nabawi fatwanya bagaimana karena sama jangan tidak adil. Karena Al-Safar ada Ridwan Kamilnya dipeyeum, dibahas-bahas, tapi tempat suci umat Islam tidak pernah disentuh,” kata kang Emil.

Emil juga menyamakan Masjid Raya Jakarta yang katanya terdapat simbol segitiga namun tidak seheboh Masjid yang dibangunnya.

“Masjid Raya Jakarta, kenapa tidak heboh? Mungkin karena arsitekturnya bukan (karya) Ridwan Kamil jadi tidak ramai, tidak picemooheun,” ungkap dia.

Emil menjelaskan sebenarnya bentuk di Masjid Al-Safar yang viral itu bukan segitiga, tapi trapesium.

Emil menegaskan, dia tidak sepakat tiap masjid atau bangunan ditemukan simbol yang dianggap non-muslim maka disimpulkan melanggar syariat. Sebab, kata dia, mungkin hal itu disebabkan oleh ketidaktahuan

Sementara itu, Ustad Rahmat membantah tudingan simbol iluminati ini untuk menjatuhkan karir Politik Ridwan Kamil. Rahmat menyebutkan dirinya hanya menyampaikan sistem pemerintahan yang dibangun bisa menjadi jebakan zionis.
“Tidak sama sekali, demi Allah. Sama sekali saya tidak pernah berniat menjatuhkan Ridwan Kamil. Tadi, telah saya sampaikan kepada beliau, kita akan terbuka. Dan saya tidak suuzon kepada siapa pun. Kalau saya memfitnah beliau keturunan Dajjal, itu fitnah. Coba di dalam ceramah, ada enggak kata-kata itu?” kata Rahmat.

“Saya hanya menyampaikan ada sistem pemerintahan yang sedang dibangun oleh mereka yang bisa jadi jebakan. Jebakan kepada siapa pun, kepada saya dan Pak Ridwan Kamil juga bisa,” ujar Rahmat. (*/fin).

BACA JUGA:  Niko Rinaldo Diskusikan Permasalahan Masyarakat Pantura

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here