Beranda Opini Awas Hepatitis B

Awas Hepatitis B

30
0

Oleh : dr. Maria Carisita Suci Puspa Pranasari

Dokter Puskesmas Keputih Dinas Kesehatan Kota Surabaya

Hepatitis B (HBsAg) merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus yang menginfeksi organ hati. Penyakit ini bersifat silent killer karena dapat menyebabkan kematian hampir tanpa adanya gejala awal. Kematian terjadi akibat terjadinya sirosis atau kanker hati.

WHO memperkirakan 350 juta jiwa warga dunia telah meninggal akibat penyakit ini.rinfeksi virus ini atau 1,5 juta jiwa per tahun. Di Indonesia, menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada 2017, 7,1 persen penduduk Indonesia yang tersebar di seluruh provinsi mengidap hepatitis B. Virus ini dapat menular melalui jarum suntik dan hubungan kelamin dari orang yang sudah tertular.

Tingginya prevalensi virus Hepatitis B dipengaruhi berbagai faktor, antara lain geografik. Daerah tropis rentan terjangkit virus tersebut dibandingkan daerah beriklim sedang. Kemudian, etnik juga berpengaruh. Etnik Cina di USA memiliki prevalensi Hepatitis B kronik lebih tinggi dibandingkan penduduk kulit putih USA.

Selain itu, faktor genetik juga bisa menyebabkan seseorang mudah terinfeksi. Penelitian di Cina ditemukan bahwa pengidap hepatitis B positif banyak terjadi pada keluarga yang beranggota 6-10 orang. Di Indonesia, 95 persen penularan virus tersebut terjadi pada bayi akibat ibunya telah terpapar terlebih dahulu. Sayangnya, banyak kaum ibu tidak mengetahui dirinya terinfeksi. Elvina Keila Putri, anak dari pasangan Krisna Yudhi Santo dan Ririn Eka Husniati, warga Bangkingan, Surabaya menjadi salah satu contoh. (Jawa Pos, 19/4/2018)

Saat lahir, Elvina menderita penyakit kuning. Hal tersebut awalnya dianggap karena sang anak kurang dijemur ketika lahir. Namun seiring dibiarkan, penyakit kuningnya tak kunjung. Hingga usia 1,5 bulan diperiksakan, Elvina ternyata menderita Atresia Bilier, yakni tertutupnya saluran empedu yang beujung pada sirosis hati. Suatu kerusakan yang parah pada hati yang menyebabkan hati tidak berfungsi sempurna. Ternyata, setelah dicaritahu, ibunya menderita hepatitis B.

Virus Hepatitis B paling banyak di dalam sel hati, sel serum, dan semua cairan tubuh yang dihasilkan manusia. Dari penelitian, cairan tubuh dari ibu melahirkan yang terinfeksi virus Hepatitis B didapatkan HBsAg positif pada sampel air ketuban sebesar 33 persen, tali pusat 50 persen, air susu ibu 71 persen, cairan lambung bayi 95 persen.

Melihat tingginya prevalensi pengidap virus Hepatitis B di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, World Health Assembly (WHA) ke-63 di Geneva Swiss, Indonesia bersama Brazil dan Columbia menjadi sponsor utama keluarnya resolusi tentang hepatitis nomor 63.18 yang menyatakan bahwa (1) hepatitis virus merupakan salah satu agenda prioritas dunia dan tanggal 28 Juli ditetapkan sebagai Hari Hepatitis Sedunia.

Sebagai aksi nyata, Indonesia dan juga negara-negara lainnya sepakat melakukan program pencegahan penyakit infeksi Hepatitis B melalui program penanggulangan dan pencegahan penyakit Hepatitis. Kegiatannya berupa immunisasi, skrining, dan pengobatan. Kegiatan immunisasi dilakukan dengan pemberian vaksin hepatitis B menggunakan metode Expanded Programmed Immunization (EPI) Hepatitis B Advisory Group dari WHO dengan pemberian vaksin hepatitis dalam 3 dosis, yaitu segera pascalahir bayi diberi vaksin HBIG, suntikan kedua diberikan pada usia 4-12 minggu setelah suntikan pertama dan suntikan ketiga 2-12 bulan setelah suntikan kedua. Pemberian immunisasi 90 persen dapat mencegah anak dari infeksi hepatitis B.

Sampai saat ini, penyakit Hepatitis masih belum dapat disembuhkan, namun dapat dicegah. Pencegahan yang paling efektif dengan melakukan skrining infeksi hepatitis B. Pada ibu hamil, skrining ini dilakukan pada waktu ibu hamil memeriksakan kehamilannya dengan menggunakan program ANC (Ante Natal Care) dan pemeriksaan kehamilan ini mesti dilakukan secara periodik.

Pemeriksaan virus Hepatitis B juga dapat dilakukan sejak individu masih berstatus belum menikah atau catin (calon pengantin). Bagi orang yang tidak termasuk semua kriteria tersebut di atas, jika memiki dana cukup dana dapat memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan setempat untuk diperiksa skrining darahnya apakah terinfeksi virus hepatitis B atau tidak.

Bila terdeteksi lebih awal maka kemungkinan kematian akibat sirosis maupun kanker hati yang merupakan bentuk kronis penyakit hepatitis B dapat ditekan. Mencegah lebih baik daripada mengobati, ungkapan ini sangat lah benar. Semakin dini suatu penyakit terdeteksi maka kemungkinan pulih akan lebih besar serta biaya yang dikeluarkan juga sedikit. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here