Beranda Opini Keharmonisan Literasi dan Keluarga

Keharmonisan Literasi dan Keluarga

16
0

Oleh : Mulya Adil Z, M.Pd

Tenaga Pendidik di SDIT Darul Ma’arif Islamic school Pondok Kelapa, Jakarta Timur

Siapa yang tidak tahu dengan makna literasi, hampir semua kalangan mengenal istilah ini. Literasi sedang hangat “digoreng” dan disajikan sedemikian rupa di dunia pendidikan. Menurut UNESCO (2016), literasi merupakan kemampuan kognitif membaca dan menulis, atau mengidentifikasikan, lalu mengintepretasikan dan mengkomunikasikan suatu bacaan.

Hal ini sejalan dengan UU. No. 20 Tahun 2003, bahwa pendidikan Indonesia bertujuan agar masyarakat Indonesia mempunyai pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Artinya, arah dari proses pendidikan nasional sangat berkaitan erat dengan berkembangnya budaya literasi.

Akan tetapi masih banyak ketidaktahuan masyarakat tentang pentingnya literasi dalam dunia pendidikan. Bahkan masih rendahnya tingkat literasi di indonesia membuat bangsa ini menjadi lemah dalam menyikapi perkembangan teknologi saat ini.

Budaya literasi merupakan hal yang penting bagi perkembangan suatu bangsa. Jika masyarakatnya memiliki budaya literasi yang lebih baik, maka bangsa tersebut dapat mengatasi segala masalah secara bijak.

Pentingnya literasi mendorong kita mengambil sikap nyata untuk menumbuhkan kembali minat literasi kepada generasi muda khususnya anak usia dini. Literasi bukan hanya sekedar kemampuan untuk membaca dan menulis namun, menambah pengetahuan, keterampilan dan kemampuan yang dapat membuat seseorang memiliki kemampuan berfikir kritis, mampu memecahkan masalah dalam berbagai konteks, mampu berkomunikasi secara efektif dan mampu mengembangkan potensi dan berpartisipasi aktif dalam kehidupan masyarakat.

Dari pengertian diatas dapat kita simpulkan bahwa peran literasi sangat penting dalam berhasilnya suatu bangsa. Hasil penelitian Program for International Student Assessment (PISA) menunjukkan rendahnya tingkat literasi Indonesia dibanding negara-negara di dunia, dimana Indonesia tahun 2015 masih berada pada 10 besar peringkat terbawah yaitu peringkat 62 dari 72 negara dengan rata-rata skor 395.

Bukan hanya PISA yang menyatakan rendahnya literasi di indonesia, menurut UNESCO tingkat literasi membaca di Indonesia hanya 0,001 persen. Dapat diartikan 1000 orang, hanya 1 orang dengan minat baca tinggi. banyak data data lain yang menyudutkan rendahnya tingkat literasi pada bangsa ini.

Seperti kita ketahui, cita-cita pendidikan nasional sangat selaras dengan tujuan literasi, yaitu menumbuh kembangkan budi pekerti yang baik, menumbuh kembangkan budaya literasi di sekolah maupun di masyarakat, dapat meningkatkan pengetahuan yang dimiliki dengan cara membaca berbagai informasi yang bermanfaat, dapat meningkatkan kepahaman seseorang dalam mengambil inti sari dari bacaan, mengisi waktu dengan literasi agar lebih berguna, memberikan penilaian kritis pada karya tulis seseorang, memperkuat nilai kepribadian dengan membaca dan menulis.

Di era teknologi saat ini, pendidikan literasi banyak digaungkan oleh para praktisi pendidikan untuk menghasilkan sumber daya manusia yang tidak hanya cerdas dalam bidang akademik, akan tetapi juga memiliki pola pikir kritis dan logis. Dalam hal ini tentu saja tidak melulu harus terpaku pada pembelajaran di sekolah. Orang tua di rumah sangat berperan dalam menanamkan pendidikan literasi pada anak-anak mereka mulai dari usia dini.

Tujuan utamanya bukan hanya menekankan pada kemampuan anak untuk membaca atau menulis. Kedua hal tersebut dijadikan landasan untuk meraih tujuan yang lebih luas, yaitu membentuk generasi yang mampu berpikir kritis dalam menyikapi informasi pendidikan, literasi penting dimulai sejak usia dini demi terwujudnya bangsa yang kuat.

Jangan salahkan anak dalam bobroknya literasi bangsa karena banyak hal yang menjadi faktor keterpurukan literasi itu sendiri, antara lain: Kurangnya kepedulian orang tua dalam memperkenalkan literasi sejak dini. Aktivitas membaca masih belum menjadi kebiasaan dalam keluarga. Orang tua hanya sekedar mengajarkan membaca dan menulis kepada anak mereka, bisa tetapi belum terbiasa. Seharusnya, budaya literasi diperkenalkan dan dibiasakan sejak kecil.

Orang tua tidak sungguh – sungguh dalam memberikan pemahaman tentang pentingnya literasi, sehingga anak menjadi ogah-ogahan. Ditambah lagi dengan kesibukan orang tua diluar rumah sehingga lupa akan tanggung jawabnya membangun pondasi karakter anak.

Teknologi yang makin canggih di era globalisasi ini turut ambil bagian berkurangnya budaya literasi di Indonesia. Anak-anak lebih suka bermain dengan handphone dari pada membaca. Membaca menjadi terasa membosankan dibandingkan dengan bermain handphone mereka.

Kecanggihan teknologi menjadikan media sosial dengan kontennya yang tak bertanggung jawab mewabah dimana mana, seperti di dalam Facebook, Twitter, Youtube, Instagram, dan lainnya. Seharusnya, budaya literasi dapat mengatasi konten konten tersebut dengan memilah dan memilih konten yang bertanggung jawab.

Semakin canggihnya teknologi seharusnya dapat bermanfaat untuk menambah wawasan dan bahan literasi. Fasilitas membaca yang minim juga mengubah kebiasaan membaca. Anak enggan membaca karena terlalu sering mendapatkan bacaan yang tidak menarik dan suasana yang tidak menyenangkan sehingga motivasi untuk membaca menjadi kurang.

Literasi bukan hanya membaca, menulis juga bagian dari literasi. Sangat erat kaitannya antara menulis dan membaca. Jika sudah banyak membaca maka anak akan mudah dalam mengumpulkan gagasan-gagasan yang akan dituangkan kedalam tulisan.

Menulis membutuhkan banyak kosa kata yang akan diperoleh dari membaca. Rendahnya literasi membuat anak enggan membaca dan menulis karena mereka anggap tidak penting. Teknologi yang berkembang menjadikan anak mudah terprofokasi dan mudah diadu domba. Mereka tidak punya kemampuan untuk memilih, memilah, menganalisa suatu berita yang masuk ke dalam pikiran mereka.

Suasana yang tidak menyenangkan membuat anak enggan membaca dan menulis. Menuangkan ide tentu perlu banyak membaca hal inilah yang biasanya membuat anak malas menulis. Tidak menariknya buku dan fasilitas yang tersedia sangat berdampak pada menumbuhkan minat anak untuk membaca dan menulis.

Siapa yang harus disalahkan dalam rendahnya literasi bangsa? Orang tua? Guru? Masyarakat? Pemerintah? atau anak itu sendiri? Jangan saling menyalahkan satu sama lain. Hal yang perlu dilakukan adalah menyemarakkan sosialisasi dikalangan masyarakat luas.

Jangan hanya bersosialisasi dikalangan praktisi- praktisi saja. Sosialisai kepada masyarakat itu penting, tidak hanya melalui sosialisasi formal dengan pembicara yang menyampaikan materi. Masih banyak cara yang menyenangkan untuk menyampaikan dan menyadarkan bahwa membaca itu penting.

Mengarahkan anak dalam memanfaatkan teknologi secara benar, mengajarkan anak untuk jeli dalam mencari bacaan yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan. Menfasilitasi anak sejak dini dalam membaca dan menulis akan menumbuhkan rasa literasi yang tinggi. Jika seorang anak telah difasilitasi bacaan dan ruangan yang nyaman secara otomatis akan memberikan rasa ingin tahu terhadap apa yang dihadapannya. Bacaan yang menarik juga dapat menambah motivasi anak dalam meningkatkan literasinya.

Ketersediaan buku-buku berkualitas yang minim juga termasuk salah satu penyebab anak malas membaca. Menumbuhkan rasa rindu membaca dan menulis bisa dilakukan dengan cara membiasakan anak familiar dengan alat tulis, tidak melulu tentang mainan saja. Membaca cerita untuk anak dan juga mengajarkan menulis buku harian merupakan cara yang paling mudah dilakukan oleh orangtua yang sangat berperan penting berkembang atau tidaknya literasi dalam jiwa anak.

Tidak ada salahnya kita mulai dari lingkungan masyarakat dengan mensosialisasikan dan menerapkan kegiatan literasi yang rutin akan menularkan dampak positif kepada orangtua. Karena sejatinya orang tua adalah panutan bagi anak-anaknya sehingga jiwa literasi dapat tertanam pada anak sejak dini.

Orangtua merupakan pendidik pertama yang akan mengajarkan, memotivasi dan mendorong anak anaknya untuk mencintai literasi. Oleh karena itu, setiap akademisi, keluarga, pemuda dan akan lebih baik lagi seluruh masyarakat untuk dapat bergandengan tangan dalam memajukan literasi berawal dari lingkungan keluarga dan bermuara di masyarakat luas. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here