Beranda Opini Membangkitkan Trio Raksasa Kecerdasan Anak Millenial

Membangkitkan Trio Raksasa Kecerdasan Anak Millenial

22
0

Oleh : Dr. Yusep Solihudien M.Ag

 Penais Kemenag Purwakarta

Anak-anak millenial lahir dari era revolusi Industri 4.0 yang ditandai dengan semakin canggihnya teknologi informasi Internet melalui gadget dengan jari jemarinya sehingga “dunia dalam genggaman”.

Teknologi informasi ibarat pedang bermata dua bagi anak-anak, ia bisa digunakan positif dan negatif. Menurut para psikolog akibat serangan internet dengan berbagai produknya, baik game, wibesite pornoghrafi maupun medsos telah melahirkan beberapa problematika psikologis.

Antara lain, enggan bersosialisasi, pola tidur terganggu, sangat sensitif, egoitas tinggi, sulit konsentrasi dan sulit fokus yang lama, malas sekolah, daya baca lemah, “sakau” kuota, senang kekerasan, ketagihan nonton pornografi, kurang peduli pada lingkungan sekitar, dan efek berat pada seks bebas, LGBT, dan lain-lain. Karena itu kalangan pendidik baik orang tua dan guru millennial menghadapi multiproblematika psikologis yang jika tidak dioptimalkan mengancam generasi emas bangsa ini.

Muncul pertanyaan besar, mengapa ini bisa terjadi? Akan banyak jawaban atas berbagai pertanyaan tersebut. Menurut Dadang Hawari seseorang disebut tidak sehat/sakit jiwanya, jika ia tidak bisa melaksanakan sesuatu seusai dengan fungsinya, atau “perilaku disfungsional” dalam berbagai aspeknya.

Manusia adalah mahkuk terbaik yang diciptakan Allah, karena ia mempunyai unsur komplet yaitu, unsur jasmani, akal, dan hati. Di antara kekuatan yang diberikan Allah yaitu memberikan akal dan hati yang berfungsi untuk dinamika kehidupannya.

Penyimpangan-penyimpangan psikologis anak millennial ini diakibatkan oleh adanya keterpecahan dan ketidakseimbangan dalam mengimplementasikan kecerdasan. Karena itu penting untuk menelaah makna konsep kecerdasan dalam Alquran dan psikologi modern sebagai bahan paradigma dalam menjalani pendidikan generasi emas kita.

Sebagai landasan teologis kita terdapat dalam surat Al-Mujadalah ayat 11, “Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberikan ilmu beberapa derajat. Dalam ayat ini secara tegas Allah hanya akan mengangkat harkat derajat seseorang yang memiliki iman dan berilmu saja.

Kata iman secara mutlak mengandung dimensi keyakinan hati, pernyataan verbal dan teraktualisasi dalam kehidupan. Hampir semua ayat kita temukan, bahwa kata iman selalu diikuti dengan amal saleh.

Dalam bahasa sekarang iman adalah bersumber dari hati, ia merupakan dasar untuk munculnya kecerdasan spiritual dan moral. Dengan demikian dua kekuatan ini harus ada pada diri manusia, kekuatan iman dan ilmu, jika salah satu hilang maka ia akan jatuh pada derajat yang rendah.

Kekuatan iman merupakan bentuk dari kecerdasan spiritual. Menurut Zohar dan Marshall, penerjemah Helmy Mustofa (2005:25), kecerdasan spiritual adalah kecerdasan yang kita gunakan untuk membuat kebaikan, kebenaran, keindahan, dan kasih sayang dalam kehidupan sehari-hari, keluarga, organisasi, dan institusi.

Kecerdasan spiritual adalah cara kita menggunakan makna, nilai, tujuan, dan motivasi itu dalam proses berpikir dan pengambilan keputusan. Orang yang memiliki kecerdasan spiritual (SQ) akan cenderung menjadi orang yang bijaksana dengan pembawaan yang tenang, memandang segala sesuatu dari sisi positif dan mampu menyelesaikan permasalahan yang dihadapi dengan bijaksana.

Orang yang memiliki kecerdasan spiritual (SQ) cenderung tidak terlalu memikirkan materi, yang menjadi tujuan hidup mereka adalah bagaimana membuat jiwa dan rohani bahagia dengan selalu berbuat baik kepada setiap orang.

Secara lebih khusus, Zohar (2001) mengidentifikasikan sepuluh kriteria mengukur kecerdasan Spiritual seseorang, yaitu: kesadaran diri, spontanitas, termotivasi secara internal, melihat kehidupan dari visi dan berdasarkan nilai-nilai fundamental, holistik, melihat sistem dan universalitas, kasih sayang (rasa berkomunitas, rasa mengikuti aliran kehidupan), menghargai keragaman, mandiri, teguh melawan mayoritas, mempertanyakan secara mendasar, menata kembali dalam gambaran besar teguh dalam kesulitan.

Apa yang dikemukakan oleh Zohar sesungguhnya merupakan tafsir dari bentuk amal shalih yang berasal dari Iman, sebagai sumber kecerdasan spiritual. Kecerdasan spiritual dalam Islam menyatu bermuara dalam wujud kerja-kerja amal shalih atau amal baik sehingga mewujudkan kecerdasan emosional yang konsisten.

Apabila kita meneliti ayat-ayat Alquran, kata-kata yang memiliki arti kecerdasan, sebagaimana yang telah dijelaskan tersebut di atas, yaitu al-Fathanah, adz-dzaka’, al-hadzaqah, an-nubl, an-najabah, dan al-kayyis tidak digunakan oleh Alquran.

Definisi kecerdasan secara jelas juga tidak ditemukan, tetapi melalui kata-kata yang digunakan oleh Alquran dapat disimpulkan makna kecerdasan. Kata yang banyak digunakan oleh Alquran adalah kata yang memiliki makna yang dekat dengan kecerdasan, seperti kata yang seasal dengan kata al-‘aql, al-lubb, al-fikr, al-Bashar, al-nuha, al-fiqh, al-fikr, al-nazhar, al-tadabbur, dan al-dzikr. Kata-kata tersebut banyak digunakan di dalam Alquran dalam bentuk kata kerja, seperti kata ta’qilun. Para ahli tafsir, termasuk di antaranya Muhammad Ali Al-Shabuni, menafsirkan kata afala ta’qilun.

“apakah kamu tidak menggunakan akalmu” Dengan demikian kecerdasan menurut Alquran diukur dengan penggunaan akal atau kecerdasan itu untuk hal-hal positif bagi dirinya maupun orang lain.

Allah menciptakan aneka macam dalam kehidupan di langit dan di bumi, sehingga aneka ciptaan-Nya harus dipahami dengan ilmu yang berbeda-beda tersebut. Hal ini sejalan dengan makna Ulil Albab mempunyai arti otak yang berlapis-lapis.

Dalam konteks ini, Howard Gardner melahirkan Theory of Multiple Intelligence yang sangat luar biasa. Gardner melihat bahwa “ setiap anak adalah unik, karena uniknya itulah maka setiap anak itu berbeda dan pelatihan yang efektif pun harus berbeda-berbeda.

Setiap anak adalah cerdas pada bidangnya masing-masing, dan tidak anak yang cerdas pada semua bidang”. Menurutnya, manusia memiliki delapan pusat kecerdasan, (1) Kecerdasan dalam menggunakan kata-kata (Linguistic Intelligence), ; (2) Kecerdasan dalam bermusik (Musical Intelligence); (3) Kecerdasan dalam menggunakan logika (Logical-MathematicalIntelligence),(4) Kecerdasan dalam menggunakan gambar (Visual-Spatial) Intelligence), (5) Kecerdasan dalam memahami tubuh (Bodily-Kinesthetic Intelligence),(6) Kecerdasan dalam memahami sesama (Interpersonal Intelligence), (7) Kecerdasan dalam memahami diri sendiri (Intrapersonal Intelligence), (8) Kecerdasan dalam memahami alam (Naturalist Intelligence).

Jika manusia mampu mengembangkan salah satu di antara delapan jenis kecerdasan tersebut, maka manusia akan ahli dan memiliki kompetensi dalam segala aneka profesi kehidupannya. Ia akan menunjukkan keahliannya tersebut sesuai dengan karakter kecerdasannya.

Ia akan menjadi orang profesional di bidangnya namun tetap menunjukkan keislaman yang taat dan kuat serta tunduk pada aturan hidup ilahi. Kecerdasan dalam Islam bersifat integral menyatu dan tidak bisa dipisahkan-pisahkan, three in one, kecerdasan IQ dan EQ diikat dan dibalut dengan kecerdasan spiritual.

Dalam Alquran keterpaduan trio kecerdasan spiritual emosional dan intelektual telah digambarkan secara gamblang, seimbang dan sempurna. Trio kecerdasan ini harus mewujud dalam aktivitas profesi kita sebagai para pendidik di rumah dan sekolah untuk terus mengawal penguatan kecerdasan spiritual dan emosional dengan penancaban melaksanakan perintah agamanya, dan melesatkan kecerdasan intelektual dengan mengembangkan program-program dan strategi pendidikan dialogis demokratis yang menunjang unuk melesatkan aneka talenta/potensi kecerdasannya dengan maksimal.

Selamat berjihad para orang tua dan guru dalam menguatkan dan melestakan trio raksasa kecerdasan anak millenial pada tahun ajaran baru 2019/2020, demi suksesnya generasi emas bangsa kita. “ Your brain like sleeping giant”, Otak Anda bagaikan raksasa yang sedang tidur, maka tugas pendidikan membangkitkan raksasa-raksasa kecerdasan itu. Wallahu ‘alam bissawab. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here