Beranda Opini Membumikan Literasi Membaca di Sekolah

Membumikan Literasi Membaca di Sekolah

42
0

Oleh : Fadhla Khanifa, S.Pd

Tentor di Bimbingan Belajar Excellent

Gaung kata literasi mungkin sudah membumi. Namun, apakah sudah dimaknai dan dijiwai secara tepat? Versi Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) V kata literasi berarti kemampuan menulis dan membaca; pengetahuan atau keterampilan dalam bidang atau aktivitas tertentu; kemampuan individu dalam mengolah informasi dan pengetahuan untuk kecakapan hidup.

Sebagai masyarakat modern, mengerti dan paham arti sebuah kata tak akan mengubah apa-apa. Tindakan sebagai gol akhir merupakan hal terpenting terutama di sekolah. Demikian halnya dengan literasi. Pencanangan Gerakan Literasi Nasional (GLN) oleh pemerintah terkhusus untuk siswa merupakan terobosan baru mengingat kemampuan membaca dan menulis siswa masih di bawah rata-rata.

Aneh Tetapi Nyata

Jensen (dalam Deporter, dkk., 2010:145), “Ilmuwan saraf mengatakan bahwa 90 persen masukan indra untuk otak berasal dari sumber visual dan otak mempunyai tanggapan cepat dan alami terhadap simbol, ikon, dan gambar yang sederhana dan kuat.” Dengan demikian, keterampilan membaca dan memahami isi dari apa yang dibaca merupakan bagian vital bagi anak ketika belajar.

Berlebihankah jika kita mengatakan bahwa literasi musuh kita? Jikalau membaca memang penting, mengapa anak-anak tidak menjadikan kebiasaan membaca? Jawaban untuk pertanyaan inilah yang termasuk aneh. Kita dapati dan temukan bahkan mengalaminya sendiri. Kita tahu dampak negatifnya namun tidak mencarikan solusinya

Akibatnya? Prestasi belajar siswa tidak sebaik yang kita harapkan meski telah diupayakan dan disusun berbagai strategi. Apa penyebab dan dimana letak kesalahannya? Jawabannya pasti kita tahu. Kemampuan literasi anak-anak sekarang sangat rendah. Kesalahan itu terletak pada kita yang tidak memprioritaskan budaya membaca. Akibatnya?

Baksin (2008:5) memuat bahwa kemampuan literasi anak-anak Indonesia telah lama juga dianalisis oleh sastrawan Indonesia, Taufik Ismail. Jika siswa SMA di Amerika Serikat menghabiskan 32 judul buku selama tiga tahun, di Jepang dan Swiss 15 buku, siswa SMA di negara-negara tetangga—seperti Singapura, Malaysia, Thailand, dan Brunei Darussalam—menamatkan membaca 5-7 judul sastra, siswa SMA di Indonesia setelah era AMS Hindia Belanda—adalah 0 buku.
\
Padahal, pada era Algemeene Middlebare School (AMS) Hindia Belanda, selama belajar di sana siswa diwajibkan membaca 15-25 judul buku sastra. Jika dibandingkan dengan sekarang, bukankah pencapaian kemampuan membaca siswa baik nonsastra maupun sastra kian merosot? Bagaimana cara kita memperbaiki masalah membaca ini?

Tanggung Jawab Sekolah

Berhubung minat membaca generasi muda (baca: pelajar) belum tinggi, diperlukan langkah konkret dari pihak sekolah sebagai lingkungan yang cukup berpengaruh bagi siswa. Selama ini, realita membuktikan bahwa sekolah seolah setengah hati untuk merealisasikan GLN di sekolah.

Perlu diberi perhatian serius terkait literasi ini. Oleh karena itu, perpustakaan sekolah sama pentingnya dengan ruang belajar dan mendapat perhatian lebih dibandingkan dengan laboratorium komputer, fisika, dll. Mengingat teknologi yang semakin canggih, membutuhkan biaya besar dan faktor pendukung lainnya yang memadai untuk tetap menjadi sekolah yang baik. Meski demikian, tidak ada salahnya jika sekolah tetap fokus kepada hal-hal yang terjangkau: perpustakaan sekolah.

Pihak sekolah memang belum menganggap literasi ini sebagai sebuah kebutuhan. Buktinya? Perpustakaan sekolah diwajibkan harus ada. Cukupkah hanya pengadaan perpus? Tentu tidak. Diperlukan tenaga perpustakaan atau pustakawan yang sesuai dengan kualifikasi pendidikan atau setidaknya profesional. Di sekolah, bisa kita perhatikan tenaga perpus yang tidak sesuai dengan kualifikasi. Pustakawan di sekolah bukanlah lulusan Ilmu Perpustakaan dari universitas atau profesional yang sengaja di-training.

Apa yang perlu dilakukan? Fasilitas perpustakaan yang memadai. Kozol (dalam Trelease, 2017:198), ”Tidak ada bentuk kejahatan yang lebih membahayakan bagi anak-anak di kota selain tidak adanya perpustakaan sekolah yang memadai.”

Seyogianya, pustakawan berada di barisan terdepan untuk membumikan GLN di sekolah. Merekalah yang menginisiasi segala hal yang berbau literasi. Contoh konkretnya mendesain perpustakaan dengan baik sekalipun dengan dana yang memadai. Biasanya, buku-buku disusun dalam rak dengan posisi tegak. Alangkah lebih baik, jika kover buku mudah dijangkau mata sehingga langsung nampak dengan jelas identitas buku.

Pengajuan program hari baca sekolah (zona lokal) tentunya tidak kalah menarik untuk menumbuhkan minat baca siswa. Kerjasama yang baik dengan pengelola akademik di sekolah begitu diperlukan. Selain itu, ketika penerimaan siswa baru apalagi jika masih manual atau face to face, tak ada salahnya jika kepada siswa diperkenalkan tentang literasi oleh pustakawan atau panitia terkait.

Secara berkala, pustakawan mengadakan lomba literasi atau semacam even yang bermuara ke peningkatan minat membaca siswa dengan berbagai kategori atau sesuai kebutuhan. Hemat saya, pembiasaan kegiatan ini akan mendorong siswa untuk terus meningkatkan minat baca dan menyugesti siswa supaya tertarik atau berminat untuk membaca. Pemberian reward yang memadai merupakan motivasi kesekian setelah minat baca siswa sudah mulai tumbuh.

Peran Pendukung Lain

Selain pembaca (role model) yang baik bagi anak, orang tua memang dituntut untuk menjadi pustakawan yang memadai bagi anak-anaknya. Tanpa mendiskreditkan peran orang tua, memang mereka harus dibantu pihak luar. Untuk mengaktifkan minat anak membaca, dukungan begitu dinanti bagai angin segar.

Setidaknya, orang tua mencarikan informasi dari berbagai media dan mengikutsertakan anaknya dalam perlombaan. Selain mendampingi secara langsung, orang tua hendaknya lebih selektif memilih sekolah. Selama ini, ketika hendak mendaftarkan anaknya sekolah, yang ditanyakan adalah hal-hal berbau akademik.

Katakan saja contohnya berapa yang lulus ke sekolah/universitas favorit, fasilitas apa yang ditawarkan, tenaga edukatifnya lulusan mana, dll. Saatnya untuk mengganti pertanyaan kepada panitia penerimaan seputar literasi. Jika pihak sekolah dan orang tua duduk bersama mencarikan solusi atas masalah literasi, pasti ada solusi terbaik. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here