Beranda Opini Menyukseskan Program Inisiasi Menyusu Dini (IMD)

Menyukseskan Program Inisiasi Menyusu Dini (IMD)

28
0

Oleh Vita Ratna Sari, S.Keb., Bd.

Bidan di RSUD dr Mohamad Soewandhi, Surabaya dan Reworker di Pusat Pengembangan Jurnal dan Publikasi Ilmiah Universitas Airlangga, Surabaya

Menyusui merupakan salah satu langkah pertama yang dapat dilakukan untuk mendapatkan kehidupan yang sehat dan sejahtera bagi seorang individu. Pemberian ASI (Air Susu Ibu) secara eksklusif tanpa makanan tambahan lain sejak bayi lahir hingga 6 bulan pertama kehidupan bayi sangat penting untuk proses pertumbuhan dan perkembangan bayi. Kandungan ASI yang sangat kompleks yaitu vitamin, protein, karbohidrat, lemak dan mineral alami mudah dicerna oleh bayi. Selain itu ASI juga mengandung zat antibodi pembentuk kekebalan tubuh yang membantu melawan bakteri dan virus.

Menurut data WHO tahun 2015, kurang dari 40 persen anak di bawah usia enam bulan diberi ASI Eksklusif . Hal tersebut belum sesuai dengan target WHO yaitu meningkatkan pemberian ASI eksklusif dalam 6 bulan pertama sampai paling sedikit 50 persen. Ini merupakan target ke lima WHO di tahun 2025 (WHO, 2014). Di Indonesia, bayi yang telah mendapatkan ASI eksklusif sampai usia enam bulan adalah sebesar 29,5 persen (Profil Kesehatan Indonesia, 2017). Hal ini belum sesuai dengan target Rencana Strategis Kementerian Kesehatan tahun 2015-2019 yaitu persentase bayi usia kurang dari 6 bulan yang mendapat ASI eksklusif sebesar 50 persen.

Penyebab rendahnya pemberian ASI Eksklusif pada bayi dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain kurangnya pengetahuan dan sikap positif ibu terhadap pemberian ASI Eksklusif, adanya campur tangan keluarga dan masyarakat dalam tradisi atau kepercayaan tertentu dalam perawatan bayi khususnya pemberian ASI Eksklusif, gencarnya media dalam mempromosikan penggunaan susu formula.

Selain itu, salah satu masalah di beberapa negara maju dan berkembang adalah banyak ibu karir yang tidak menyusui secara eksklusif. Di Indonesia hampir 9 dari 10 ibu pernah memberikan ASI, namun penelitian IDAI (Yohmi dkk, 2015) menemukan hanya 49,8 persen yang memberikan ASI secara eksklusif selama 6 bulan sesuai rekomendasi WHO. Rendahnya cakupan ASI Eksklusif pada ibu karir disebabkan oleh ketersediaan fasilitas dan waktu untuk memberikan ASI Eksklusif, serta pendeknya waktu cuti melahirkan yang diberikan pada ibu menyusui yang bekerja.

Inisiasi Menyusu Dini (IMD) merupakan langkah awal yang sangat baik untuk memudahkan bayi dalam memulai proses menyusui. IMD pertama kali disosialisasikan di Indonesia pada tahun 2007 saat Pekan ASI se-Dunia. IMD adalah proses membiarkan bayi menyusu dengan nalurinya sendiri dalam 1 jam pertama setelah lahir, bersamaan dengan kontak kulit antara kulit bayi dan kulit ibu. Berdasarkan penelitian IDAI tahun 2011, ditemukan sebagian besar sudah meletakkan bayi di dada ibu segera setelah kelahiran. Namun umumnya (87 persen) bayi hanya diletakkan dengan durasi kurang dari 30 menit, padahal IMD yang tepat harus dilakukan minimal 1 jam atau sampai bayi mulai menyusu.

Berbagai dampak dapat ditimbulkan dari beban tidak menyusui. Bertambahnya kerentanan terhadap penyakit baik dari bayi maupun ibu. Minimnya pemberian ASI dapat mengakibatkan bayi rentan menderita penyakit infeksi. Menyusui dapat mencegah 1/3 kejadian infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) dan menurunkan 50 persen kejadian diare pada penyakit usus prematur pada bayi. Sedangkan pada ibu dengan menyusui dapat menurunkan resiko perdarahan pasca persalinan, menurunkan 6-10 persen resiko kanker payudara, kanker ovarium dan kanker endometriosis.

Pemberian ASI Ekslusif juga dapat menjadi alat KB alami dan mencegah obesitas pada ibu pasca melahirkan. Kenaikan kerentanan resiko infeksi tersebut juga berdampak pada tingginya biaya kesehatan yang digunakan untuk pengobatan.

Penelitian juga menyebutkan bahwa bayi yang tidak diberi ASI menunjukkan penurunan IQ dan performa pertumbuhan dan perkembangan dibandingkan dengan bayi yang diberikan ASI. Bayi yang mendapatkan ASI Eksklusif pada periode perkembangan emas terbukti memiliki IQ yang lebih tinggi dan performa yang lebih baik sehingga memiliki pekerjaan dan penghasilan yang layak. Selain itu kedekatan psikologis antara ibu dan bayi sewaktu menyusui juga mempengaruhi perkembangan emosional anak, sehingga dapat mencegah gangguan emosional yang akan ditimbulkan pada anak kelak saat dewasa. Biaya susu formula yang mahal juga dapat berdampak pada kualitas hidup generasi penerus dan perekonomian nasional.

Dampak dari tidak menyusui semakin besar. Bisa dibayangkan begitu banyaknya generasi masa depan yang tidak sehat, rentan terhadap penyakit dan pasti akan berpengaruh terhadap kualitas generasi calon pemimpin bangsa. Karenanya, sangat penting bagi anak untuk mendapatkan ASI Eksklusif dari ibu. Urusan pekerjaan serta kesibukan lain tidak bisa dijadikan alasan untuk tidak memberikan ASI Eksklusif dan tidak bisa dibudayakan.
Para pemangku kebijakan seperti eksekutif dan legislatif juga mesti membuat kebijakan yang mendukung keberhasilan IMD dan ASI Eksklusif. Adanya penggerak program yang berasal dari masyarakat seperti kader atau tokoh masyarakat dapat menunjang keberhasilan IMD. Kader berperan sebagai pendamping dan pendukung ibu dalam proses menyusui. Terakhir yaitu diperlukan komitmen seluruh elemen masyarakat dalam menjaga kelangsungan dan konsistensi program. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here