Beranda Opini Pembelajaran MetaKognitif dalam Setting Kolboratif

Pembelajaran MetaKognitif dalam Setting Kolboratif

22
0

Oleh : Muntazhimah

Dosen FKIP Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA) Jakarta, Kandidat Doktor Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

Amanat Kurikulum

Kurikulum Pendidikan Tinggi di era industry 4.0 mengamanatkan bahwa kurikulum harus mampu memfasilitasi mahasiswa untuk bisa berpikir tingkat tinggi (Kemenristekdikti, 2018 hlm.10). Kecakapan Berfikir Tingkat Tinggi atau Higher Order Thinking Skills (HOTS) mengarah pada kemampuan untuk menerapkan pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai dalam penalaran, refleksi, pemecahan masalah, pengambilan keputusan, berinovasi dan menciptakan hal-hal baru (Kusuma et al., 2017; Sulaiman et al., 2017; Abdullah et al, 2017; Hugerat & Kortam, 2014).

Lebih lanjut disebutkan bahwa “HOTS includes the ability to think critically, logical, reflective, metacognitive, creative thinking (King, Goodson, & Rohani, 1998; Nguyen, 2018; Snyder & Snyder, 2008), decision making, and problem solving (Miri, David, & Uri, 2007). Ternyata hal yang senada dengan kemenristekdikti juga diamanatkan oleh kemdikbud bahwa HOTS juga adalah kecakapan yang dibutuhkan diabad 21 yang sangat diperlukan dalam mempersiapkan peserta didik menghadapi tantangan global (KEMDIKBUD 2017).

Ada sebuah kata kunci yang menarik pada HOTS yakni thinking (berpikir). Berpikirpun dalam dunia pendidikan memiliki banyak jenis. Berpikir logis, berpikir kritis, berpikir kreatif, serta ada pula berpikir reflektif. Namun dari banyak literature disebutkan bahwa seseorang yang sudah sampai pada berpikir reflektif pasti juga sudah melewati tahap berpikir logis, kritis dan kreatif karena berpikir akan sampai pada ujungnya yakni memperoleh kesimpulan.

Berpikir merupakan proses yang didalamnya terjadi proses mengaitkan informasi sebelumnya yang sudah diperoleh dengan informasi baru yang diterima, sehingga proses berpikir reflektif ini dipengaruhi oleh pengetahuan awal seseorang (prior knowledge). Ketika berpikir seseorang akan me-retrieve informasi – informasi yang sudah dimiliki yang terkait permasalahan yang sedang dipikirkannya. Semakin lengkap informasi yang sudah dimiliki (prior knowledge) yang terkait dengan permasalahan yang sedang dipikirkannya akan semakin cepat atau sempurna solusi permasalahan tersebut sebagaimana yang diharapkan.

Begitu pentingnya berpikir sehingga dua institusi negara yakni KEMENRISTEKDIKTI maupun KEMDIKBUD mengamanatkan untuk siswa maupun mahasiswa agar dapat mengembangkan kemampuan berpikirnya. Maka selayaknyalah pembelajaran juga diarahkan agar bisa memfasilitasi kemampuan berpikir siswa maupun mahasiswa.

Pembelajaran Metakognitif dalam Setting Kolaboratif

Salah satu pendekatan pembelajaran yang bisa mengakomodir kemampuan berpikir reflektif tersebut adalah pembelajaran metakognitif (Schoenfeld, 1992 dan Nurkaeti, Turmudi dan Karso 2019). Hal ini karena dalam prosesnya, pendekatan metakognitif akan merangsang untuk melakukan refleksi terhadap hal-hal yang sudah dipelajari sebelumnya atau mungkin untuk memutuskan dan memprediksi kondisi mendatang yang mungkin (Muin, 2016) dan memuat strategi belajar, perencanaan, monitoring, dan evaluasi selama proses belajar (Carpenter &Gorg, 2000) serta akan membantu siswa atau mahasiswa menyadari kapan mereka memahami dan kapan mereka tidak memahami (Schoenfeld, 1992).

Metakognitif merupakan kata sifat dari metakognisi, yang dalam bahasa Inggrisnya berasal dari kata “metacognition” dengan prefik “meta” dan kata “kognisi”. Meta berasal dari bahasa yunani yang berarti setelah, melebihi atau diatas. Kognisi dapat diartikan sebagai apa yang diketahui atau apa yang dipikirkan oleh seseorang. Gambaran klasik mengenai kognisi meliputi “Higher mental processes” seperti pengetahuan, kesadaran, intelensi, pikiran, imajinasi, daya cipta, perencanaan, penalaran, penyimpulan, pemecahan masalah, pembuatan konsep, pembuatan klasifikasi-klasifikasi atau kaitan-kaitan, pembuatan symbol – symbol dan mungkin juga fantasi serta mimpi. Metakognsi mengacu pada kesadaran peserta didik terhadap kemampuan yang dimilikinya serta kemampuan untuk memahami, mengontrol, dan memanipulasi proses – proses kognitif yang mereka miliki.

Berdasarkan karakteristik bahwa proses yang dilakukan berupa tindakan untuk menyadarkan kemampuan kognitif peserta didik, maka proses ini merupakan keterampilan metakognitif. Peserta didik dipandu untuk dapat menyadari apa yang mereka ketahui dan apa yang mereka tidak ketahui serta bagaimana mereka memikirkan hal tersebut agar dapat diselesaikan. Schoenfeld (1987) menandai tiga kategori metakognitif dalam pembelajaran matematika, yaitu : Keyakinan dan intuisi, Pengetahuan mengenai proses berpikir, Kesadaran diri atau pengaturan diri.

Beberapa strategi untuk mengembangkan prilaku metakognitif dinyatakan oleh Blakey & Spence (1990). Mereka menyusunnya dalam enam strategi sebagai berikut :

1. Mengidentifikasi apa yang kita ketahui dan apa yang tidak kita ketahui
2. Menceritakan tentang pemikirannya
3. Mencaga catatan pemikirannya
4. Merencanakan dan melakukan pengaturan diri
5. Menanyakan proses berpikir
6. Mengevaluasi diri

Huitt (2008) menyatakan bahwa metakognisi meliputi kemampuan untuk bertanya dan menjawab pertanyaan – pertanyaan seperti, apa yang saya ketahui tentang topik ini?, apakah saya tahu apa yang perlu saya ketahui? Apakah saya tahu dimana saya mendapatkan informasi yang dibutuhkan? Apa strategi dan taktik yang dapat digunakan? Dan lain sebagainya.

Secara umum berdasarkan pendapat – pendapat yang telah diuraikan diatas, dapat dikatakan bahwa dalam proses pembelajaran, metakognitif lebih cenderung menekankan pada proses memonitor kesadaran mengenai pengetahuhuan, strategi, dan proses berpikir diri sendiri melalui pertanyaan – pertanyaan. Pertanyaan – pertanyaan ini pada dasarnya adalah pertanyaan yang dapat muncul dari diri sendiri dan mempertanyakan kepada dirinya.

Dengan demikian pembelajaran dengan pendekatan metakognitif mendesain model pembelajaran yang mengintegrasikan pertanyaan – pertanyaan yang bersifat metakognitif berkaitan dengan topik yang dipelajari serta pengontrolan terhadap proses berpikir yang dilakukan. Pertanyaan – pertanyaan metakognitif diintegrasikan kedalam bahan ajar secara tertulis dan atau secara langsung melalui lisan dan tulisan untuk menumbuhkan keyakinan dan kesadaran terhadap konsep dan prinsip matematika yang dipelajari serta melakukan pengontrolan terhadap proses berpikir yang dilakukan. Secara lisan pertanyaan guru dan dosen merangsang siswa dan mahasiswa untuk dapat bertanya pada diri sendiri berkaitan dengan topik yang dipelajari.

Prabawanto (2018) menyatakan bahwa pembelajaran metakognitif masih memiliki kelemahan, misalnya mahasiswa akan kebingungan bahkan bisa jadi akan menghentikan pembelajaran ketika ia tidak memahami atau tidak dapat menemukan penyelesaian dari suatu masalah matematis yang sedang dihadapinya. Tentunya mahasiswa tersebut memerlukan bantuan bisa bersumber dari dosen ataupun teman sejawatnya. Bantuan yang diberikan melalui interaksi sosial akan turut mengembangkan perkembangan kognitif mahasiswa tersebut (Tata, 2015). Disisi lain, disebutkan bahwa dalam pembelajaran metakognitif, mengelola hal yang sudah dipelajari sebelumnya atau prior knowledge sebagai bentuk penyadaran terhadap aktivitas kognitif yang terjadipun tentunya akan lebih mudah dikontrol dan dimonitor melalui kelompok-kelompok yang lebih kecil.

Mahasiswa dalam jumlah yang kecil (kelompok) akan bekerjasama, belajar bersama, berkolaborasi untuk maju bersama pula. Pembelajaran demikian bisa dilakukan dengan pembelajaran kolaboratif (Widjajanti, 2010) karena pembelajaran kolaboratif dapat membantu perkembangan kemampuan berpikir melalui diskusi, mengklarifikasi ide, dan mengevaluasi ide-ide lain (Gokhale, 2010). Kolaborasi juga merupakan salah satu kompetensi kecakapan abad 21 yang harus dimiliki peserta didik (KEMDIKBUD 2017). Pembelajaran kolaboratif ini bisa dipadukan dengan pembelajaran metakognitif dan selanjutnya disebut sebagai pembelajaran metakognitif dalam setting kolaboratif dan diharapkan dapat menfasilitasi perkembangan kemampuan berpikir siswa maupun mahasiswa. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here