Beranda Headline Tumbuhkan Wirausaha Baru, Kemenperin Gandeng Pesantren

Tumbuhkan Wirausaha Baru, Kemenperin Gandeng Pesantren

35
0
WIRAUSAHA SANTRI: Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka, Gati Wibawaningsih saat berkunjung ke Pondok Pesantren Al-Muhajirin Kampus 1 dalam rangka mengembangkan wirausaha santri. ADAM SUMARTO/PASUNDAN EKSPRES

PURWAKARTA-Kementerian Perindustrian melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) berupaya menumbuhkan wirausaha baru di kalangan pondok pesantren, yakni melalui Program Wira Usaha Baru (WUB) Santri Bidang Industri.

Pada tahun ini, Pondok Pesantren Al-Muhajirin Purwakarta menjadi salah satu lokus penumbuhan wirausaha industri, di mana potensi yang dimiliki pondok pesantren ini cukup besar.
Di antaranya memiliki jumlah santri lebih dari 4.000 orang dan telah mengelola unit bisnis di beberapa bidang seperti percetakan, konveksi, peternakan ikan, dan pertanian. Selain itu, lokasi pondok pesantren yang berada di sekitar pemukiman penduduk sangat strategis untuk berwirausaha di bidang tersebut.

Hal tersebut disampaikan Direktur Jenderal IKMA Gati Wibawaningsih dalam kunjungannya ke Pondok Pesantren Al-Muhajirin Kampus 1, Jalan Veteran, Purwakarta, Jawa Barat, Rabu (9/7).

Bertempat di Aula Ummi, Gati juga membuka peresmian Program Penumbuhan Wira Usaha Baru di pesantren tersebut. Yakni, dalam bentuk bimbingan teknis serta fasilitasi mesin atau peralatan produksi roti.

Hadir dalam kegiatan tersebut 100 orang peserta yang berasal dari para santri dan pengurus pondok pesantren. “Pada kegiatan bimbingan teknis ini diawali dengan materi kewirausahaan yang diikuti 100 orang peserta. Sedangkan untuk materi teknis produksi pengolahan roti, GMP dan Kemasan diikuti 20 peserta dan berlangsung sampai dengan 13 Juli 2019 nanti,” ujarnya kepada awak media.

Selain kegiatan bimbingan teknis, dalam kesempatan tersebut Ditjen IKMA juga memfasilitasi mesin atau peralatan produksi roti yang berjumlah 15 jenis yang terdiri dari mesin produksi hingga kemasan.

“Fasilitas mesin atau peralatan produksi roti kami berikan dengan harapan alat ini dapat dimanfaatkan sebagai unit bisnis yang baru bagi pondok pesantren,” katanya.

BACA JUGA:  Penggangguran Lulusan SMK Masih Tinggi

Program santripreneur Ditjen IKMA telah berjalan sejak 2013 hingga 2018 dan telah membina sebanyak 22 pondok pesantren dengan lebih dari 3.000 santri yang mendapatkan pelatihan produksi, serta motivasi kewirausahaan.

“Cakupan ruang lingkup pembinaan kami di antaranya pelatihan produksi dan bantuan mesin atau peralatan di beberapa bidang. Di antaranya, olahan pangan dan minuman seperti roti dan kopi, perbengkelan roda dua, kerajinan boneka dan kain perca, konveksi busana muslim dan seragam, daur ulang sampah, dan produksi pupuk organik cair,” kata Gati.

Dirinya memaparkan, pondok pesantren dapat berperan strategis dalam mendukung pertumbuhan industri di Indonesia. “Pondok pesantren memiliki peran sebagai “Agent of Development” yang sangat penting dan strategis dalam mengembangkan sumber daya masyarakat di pedesaan sehingga menjadi sarana yang penting dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Berdasarkan sensus Kementerian Agama di 2014-2015, jumlah pondok pesantren di Indonesia diperkirakan sebanyak 28.961 yang tersebar di seluruh provinsi dengan total santri sekitar 4.028.660 santri.

Dari total 28.961 pondok pesantren, sekitar 23.331 pondok pesantren (80 persen) di antaranya tersebar di empat provinsi yaitu Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah dan Banten.
“Pondok pesantren memiliki potensi dalam penyediaan sumber daya manusia, yaitu para santri yang berkualitas, ulet, sabar, jujur dan tekun,” kata Gati.

Pondok pesantren juga, sambungnya, memiliki potensi pemberdayaan ekonomi, mengingat sudah banyak pondok pesantren yang mendirikan koperasi, mengembangkan berbagai unit bisnis atau industri berskala kecil dan menengah, dan memiliki inkubator bisnis.

“Dengan jumlah pondok pesantren dan santri yang cukup besar, pondok pesantren memiliki potensi yang strategis untuk mendukung pembangunan ekonomi nasional, salah satunya melalui penumbuhan wirausaha industri baru di lingkungan pondok pesantren,” ucapnya.

BACA JUGA:  Buka Ribuan Lowongan Kerja untuk Tamatan SMP hingga S2

Sementara itu, Pimpinan Pondok Pesantren Al-Muhajirin DR KH Abun Bunyamin MA mengapresiasi program wirausaha baru bagi santri dengan tagline Santri Hebat, Industri Kuat, Indonesia Jaya.
“Program bimbingan teknis ini tak hanya memberikan pelatihan tapi juga menyumbangkan berbagi peralatan pendukung. Insya Allah dapat menghasilkan santri bermental entrepreneur. Setelah latihan dan pandai membuat roti, maka kami memiliki cita-citanya bisa memenuhi kebutuhan internal, dalam kota, dalam negeri bahkan hingga bisa mengekspor,” ucapnya.

Senada disampaikan Kabid Perindustrian Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Purwakarta Tiktik Kartika Wulansari. “Ini adalah bimtek keempat di tahun ini. Sebelumnya sudah ada tiga bimtek yang diberikan melalui Direktorat IKMA. Ketiganya adalah, pelatihan AC, bengkel kendaraan roda empat, dan pelatihan pembuatan topi,” kata Tiktik.

Direktorat IKMA juga, sambungnya, kerap memfasilitasi serta memberikan bantuan kepada litbang keramik. “Hal ini sangat membantu dan bermanfaat bagi kami,” ucapnya.(add/vry)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here