Beranda Opini Urgensi Pendidikan Literasi Media Dalam Keluarga

Urgensi Pendidikan Literasi Media Dalam Keluarga

18
0

Oleh Andreas Rony Wijaya, S.Mat.
 Alumni S1 program studi Matematika di Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta, Jawa Tengah

Pada era digital sekarang ini hampir semua orang memanfaatkan media internet dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu media internet yang paling banyak digunakan adalah media sosial. Keberadaan media sosial di tengah masyarakat tentunya membawa berbagai kemudahan. Akan tetapi, bak pisau bermata dua, penggunaan media sosial juga dapat merugikan penggunanya.

Padahal pengguna media sosial bukan hanya dari kalangan dewasa saja, melainkan banyak juga pengguna yang masih anak-anak. Kita pasti sering mendengar berbagai kasus kekerasan dan kejahatan seorang anak yang diakibatkan dari media internet, anak-anak yang kecanduan game online, anak-anak yang ingin menjadi artis instagram ataupun youtuber, sampai dengan bullying di media sosial.

Anak-anak usia sekolah mulai ketergantungan pada penggunaan gawai, dan tidak mungkin menghindarkan anak begitu saja dari penggunaannya. Dilema memang, jika dilarang maka anak akan menjadi generasi yang gagap teknologi (gaptek), namun jika diberi kebebasan maka banyak dampak negatif yang diterima oleh anak. Kasus kekerasan yang dilakukan oleh anak, sering terinspirasi dari apa yang disaksikan dan dibaca melalui media sosial. Anak merupakan sosok yang suka meniru apa yang mereka lihat, dan tanpa berpikir panjang apakah hal tersebut baik atau tidak untuk dilakukan.

Secara teknis, anak-anak memang sudah menguasai media sosial. Namun, anak-anak belum bijak dalam menggunakannya. Anak-anak belum sadar akan dampak negatif dari media sosial jika tidak digunakan pada tempatnya. Saat ini media sosial dipenuhi oleh konten negatif seperti ujaran kebencian, berita bohong, konten pornografi, video-video kekerasan, dan konten lainnya yang tidak mendidik. Konten-konten negatif tersebut dapat mempengaruhi perkembangan anak dan mempengaruhi perilaku keseharian anak.
Oleh karena itu, anak perlu diberikan pemahaman bagaimana menggunakan media digital dengan bijak dan memahami konten-kontennya. Pemahaman tersebut dilakukan melalui proses literasi, yakni literasi media digital. Literasi media merupakan suatu kegiatan pendidikan media yang memiliki tujuan agar masyarakat mampu memahami, menganalisis, sekaligus mampu menciptakan dan memproduksi informasi dalam media.

Seseorang dikatakan mempunyai kemampuan literasi media yang baik ketika mampu membedakan suatu konten masuk dalam kategori fakta atau hoaks. Keterampilan yang paling utama dalam literasi media adalah membaca dan menulis. Sayangnya, pengguna media sosial belum memiliki keterampilan yang baik dalam membaca dan menulis di media sosial. Banyak yang menulis suatu unggahan atau mengomentari sesuatu tanpa membaca dan memahaminya terlebih dahulu.

Berdasarkan data Internet Inclusive Index 2019 yang dilakukan oleh Economist Intelligence Unit, literasi media digital di Indonesia berada pada peringkat 63 dari 100 negara yang masuk survei. Seakan mendukung survei tersebut, menurut The Worldis Most Literate Nations Indonesia menempati peringkat 60 dari 61 negara soal literasi. Indonesia berada jauh di bawah Singapura yang berada di peringkat 36, sedangkan yang menduduki peringkat pertama adalah Finlandia dengan tingkat literasi yang tinggi, hampir mencapai 100 persen. Rendahnya kemampuan literasi media dari pengguna media sosial ini membuat pengguna mudah dibohongi dengan berita hoaks dan ujaran kebencian.

Keluarga Sebagai Poros

Sebenarnya, pendidikan literasi media sudah lama digaungkan oleh banyak kalangan. Bahkan banyak yang mewacanakan dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah. Tapi apakah cukup hanya pembelajaran di sekolah saja? Keluarga merupakan tempat pendidikan yang pertama dan utama dalam segala hal, termasuk dalam pendidikan literasi media digital

Poros utamanya adalah pada orang tua. Orang tua mengemban fungsi sebagai regulator, teaching, controlling, dan contoh yang baik untuk anaknya. Di tengah kesibukan dan rutinitasnya orang tua tetap mempunyai tanggung jawab untuk mendampingi anak-anaknya dalam penggunaan gawai yang mereka fasilitasi. Sangat miris jika ada orang tua yang tidak mengetahui apa saja isi gawai dan apa yang dilakukan anaknya melalui media sosial.
Terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan dalam literasi media digital di keluarga agar tidak salah dalam menggunakan media sosial. Pertama, orang tua hendaknya memiliki kemampuan teknis yang mumpuni dalam mengelola gawai. Saat ini terdapat kesenjangan antara anak dengan orang tua dalam menggunakan teknologi.

Kebanyakan orang tua berasal dari generasi X (kelahiran tahun 1961-1980) dan generasi Y (kelahiran 1981-1994), sedangkan anak berasal dari generasi Z dan alpha (kelahiran 1995-ke atas). Dengan adanya pengetahuan mengenai perkembangan teknologi digital, maka orang tua dapat mengimbangi anak dan dapat terlibat langsung memantau anak dalam penggunaan gawai.

Kedua, orang tua hendaknya memahami aturan dan hukum yang terkait internet, utamanya Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Orang tua juga harus paham batasan usia penggunaan gawai dan media sosial, sehingga dapat mengkontrol anak-anaknya. Menurut Kementerian Komunikasi dan Informatika, batasan pengguna media Facebook, Instagram dan Youtube minimal usia 13 tahun dan Twitter usia 15 tahun. Setelah itu, orang tua memberikan pengertian kepada anaknya bagaimana berlakunya UU ITE tersebut dengan bahasa yang mudah dipahami oleh anak. Buat kesepakatan dengan anak tentang aturan penggunaannya.

Ketiga adalah membudayakan mengkritisi konten dari media sosial. Memastikan kebenarannya dan mempertimbangkan manfaatnya bila mengkosumsinya atau menyebarkan ulang. Terdapat beberapa cara untuk mengetahui suatu informasi yang diterima masuk ke dalam berita bohong atau tidak. Diantaranya adalah mengecek sumbernya, kritis terhadap isi berita, melihat dari tampilan pesan, dan dapat mengecek melalui aplikasi atau website pengecek hoaks.
Keempat adalah berhati-hati dan bijak saat mengunggah status dalam media sosial. Ini adalah salah satu kemampuan literasi yakni menulis. Jika dahulu pepatah mengatakan, “mulutmu adalah harimaumu”, namun pada era digital saat ini berubah menjadi, “jarimu adalah harimaumu.” Dikutip dari Kompas (16/05/2019), salah satu contoh kasus unggahan di media sosial adalah seorang pelajar di Maumere NTT terjerat UU ITE karena menjadi admin dari suatu grup hoaks di Facebook.
Kelima, menekankan kepada anak bahwa media sosial bukan hanya untuk sarana hiburan belaka, melainkan juga merupakan sebagai sarana pendidikan dan memperkaya wawasan anak.
Yang terakhir, orang tua wajib memberikan contoh bijak dalam menggunakan media sosial, menjadi role model yang baik bagi anaknya. Memberikan pengertian kriteria konten apa saja yang boleh diakses dan disebarkan, serta akun-akun apa saja yang boleh dikuti.

Uraian tersebut menekankan bahwa literasi media merupakan kegiatan yang memerlukan kesinambungan dan partisipasi dari semua pihak. Keluarga merupakan satu poros penting dalam menggerakkan dan membangun literasi media dari seorang anak. Disamping itu, pemerintah, khususnya Kementerian Komunikasi dan Informatika serta Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), juga bertanggung jawab dalam melindungi anak dari konten negatif di media sosial dengan membuat regulasi dan program-program yang berkaitan dengan teknologi. Mari bijak dalam menggunakan media sosial.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here