Beranda Opini Menancapkan Karakter Pengorbanan “Tri Raksasa Sejarah”

Menancapkan Karakter Pengorbanan “Tri Raksasa Sejarah”

15
0

Oleh : Dr. Yusep Solihudien, M.Ag

Penais Kemenag/Pimpinan Ponpes Al-Manaar Purwakarta

Allah telah menegaskan bahwa kisah-kisah dalam Alquran bukanlah merupakan kisah kering dan tanpa makna. Kisah dalam Alquran merupakan sumber yang wajib memetik pelajaran dari setiap rekaman kisah dalam Alquran (QS.Yusuf : 111). Menjelang hari raya besar idul Adha, umat Islam sedunia harus melaksanakan sejumlah syariah yang berasal dari Ibrahim Ismail dan Siti Hajar. Mengapa sebagian ahli sejarah memberikan gelar trio raksasa sejarah bagi tiga orang tersebut. Allah Swt memberikan gelarah “uswah hasanah “ (QS. Al-Mumtahanah : 4), persis sama Allah memberikan gelaran tersebut kepada diri Nabi Muhamad dengan “uswah hasanah” (QS. Al-Ahzab:21). Pernyataan Allah kepada Nabi Ibrahim ini sangat menarik untuk ditelaah mengapa Allah memberikan gelaran “uswah hasanah” kepada Nabi Ibrahim dan Nabi Muhamad ? Ternyata salah satu syariat rukun Islam kita yaitu ibadah haji dan syariat Qurban merupakan gabungan dari dua syariat, yaitu syariat Ibrahim, Ismail dan Hajar dan disempurnakan oleh syariat Nabi Muhamad SAW.

Oleh karena itu wajib hukumnya kita mengambil ‘ibrah dari “ Trio raksasa sejarah” tersebut. Ibadah haji dan ritual qurban kali ini merupakan momentum yang sangat penting bagi kita ditengah arus kehidupab bermasyarakat, berbangsa, bernegara dan sedang dalam pusaran kemaksiatan dan kemungkaran yang cukup parah. perilaku mistis kemusrykan semakin merajalela dalam bentuk ramalan-ramalan, aliran-aliran sesat yang tumbuh subur, penderita HIV AIDS semakin menggunung, bahkan Jawa barat menduduki rangking 3 diantara beberapa provinsi Nasional yang penderita HIV AIDS nya tinggi, pecandu Narkoba yang semakin menggila, perilaku sek bebas remaja di Jabotabek yang telah mencapai 50 persen, aborsi yang mencapai 2,5 juta pertahun, tawuran pelajar dan mahasiswa yang terus menjadi-jadi, angka kriminalitas yang terus semakin menggunung, korupsi Indonesia yang berada di jajaran 5 besar dunia, angka krimininalitas yang terus semakin tinggi, makelar kasus, mapia peradilan dan diskriminasi hukum kian merajalela dalam dunia penegakan hukum kita, serta semakin berkembang falsafah “menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan” keduniaan, dan segudang kebobrokan bangsa lainnya.

Jika sejenak kita melacak apa yang menjadi penyebab dari perilaku-perilaku tersebut, maka jawabannya terletak pada lemahnya komitmen dan istiqomah manusia dalam melaksanakan nilai-nilai ajaran agama Islam. Manusia merupakan produk dari sebuah pendidikan keluarga, yang didalamnya diwujudkan visi misi dan arahan pendidikan dan cita-cita istri/anak, yang diusung oleh bapak/suami, istri/ibu, dan anak. Seberapa kuat peranan keluarga sebagai medium dakwah dilaksanakan agar para suami, istri dan anak bisa mempunyai komitmen amanah, ibadah dan profesional dalam amaliah di berbagai aspek kehidupan. Peranan keluarga sangatlah penting, ia penentu bangkit dan hancurnya sebuah bangsa, sehingga ada istilah “al-Usrah ‘imad billad Biha ahkyat wa biha tamuut”, keluarga adalah tiangnya negara, dengan keluarga negara bisa bangkit dan negara bisa hancur.

Rekaman Heroik Historis

Allah telah memberikan rekaman gambaran tentang kisah-kisah keluarga para nabi dalam menjalankan misi dakwah yang dimanahkan Allah, seperti kisah keluarga nabi Luth yang istri dan anaknya durhaka, kisah Nabi Luth yang anaknya durhaka, dan beberapa kisah lainnya. Allah menampilkan uswah hasanah sebuah keluarga yang mempunyai “tingkat ketauhidan dan ketaatan tinggi yang sama” seluruh anggota keluarganya yaitu, Ibrahim sebagai bapak, Siti Hajar sebagai istri, dan Ismail sebagai anak. Hampir semua anggota keluarga Nabi Ibrahim mendapat hantaman ujian yang sangat berat. Puncak ujian terekam dalam :

Atas perintah Allah, Siti Hajar ditinggalkan oleh Ibrahim di sebuah lembah yang kering, tandus, tidak ada sumber mata air, serta tidak berpenghuni. Hajar menggendong Ismail yang masih bayi harus berjuang keras mencari sumber mata air. Ia dengan tulus, ikhlas, sabar, dan berjuang keras mencari sumber mata air dari berlari ke sebuah bukit shofa kemudian ke bukit marwah, dengan kesabaran tinggi inilah Allah memberikan reward kepada Hajar dengan menggelontorkan sumber mata air. (QS. Ibrahim: 37).

Disaat Ismail sedang dalam masa tumbuh dewasa, Allah memerintahkan kepada Ibrahim untuk menyembelih putranya bernama Ismail. Ibrahim sebagai bapak yang tauhid tinggi harus ikhlas untuk menyampaikan dan melaksanakan hal ini kepada putra yang sangat dicintainya. Ismail sebagai anak yang mempunyai ruh tauhid tinggi refleks menjawab, “ Wahai Bapaku lakukanlaha\ apa yang Allah perintahkan, Insya Allah Bapak akan mendapati aku sebagai orang yang sabar”, Ketika dua insan yang tulus, ikhlas, sabar, dan istiqomah dalam melaksanakan perintah Allah itu, Allah menggantinya dengan sembelihan lain. (QS. Ashofat : 102-106).

Menancabkan ‘Ibrah (pelajaran)

Penyataan Allah bahwa dalam kisah-kisah tersebut terdapat pelajaran bagi orang yang berakal, mengandung makna bahwa kita harus mengambil pelajaran-pelajaran ruh sejarah tersebut dalam kehidupan kita saat ini. Kalau seorang Fhilosof mengatakan, “ Cogitu ergo sum “ aku berpikir karena itu aku ada ”. Maka keberadaan kita sebagai manusia akan disebut layak jika kita mengerahkan kekuatan berpikir untuk mennyelami kesalahan-kesalahan yang telah kita lakukan, sekaligus mengambil ‘ibrah-‘ibrah untuk memperbaiki kebobrookan dan kelemehan keluarga-keluarga muslim kita.

Ada beberapa disorientasi yang dialami keluraga muslim dalam menempuh bahtera keluarganya antara lain, Orientasi pendidikan dan dakwah keluarga yang jauh dari agama, kebanyakan pendidikan keluarga diprioritaskan dan diarahkan untuk duniawiyyah dan scientific semata-mata. Anak disiagakan jam belajar untuk bimbel atau les sempoa, bahasa Inggris, IPA, komputer, Kimia , Biologi, dan lain-lain. Orang tua tidak mempunyai komitmen agama yang tinggi sehingga ayah dan ibu tidak menjadi figur keshalihan spiritual, baginya yang penting bekerja keras membanting tulang menjacri uang sebanyak-banyaknya untuk kehidupannya. Longgarnya penguatan keislaman para keluarga muslim saat ini mengakibatkan anak-anak terbuai, tenggelam dalam gelimang lumpur gaya hidup dan gaul bebas, kriminalitas, pornografi, narkoba, budaya kekerasan, tawuran dan menyebarnya virus falsafah “menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan”. Semakin menjauhnya generasi muda Islam terhadap materi dan aktivitas keislaman Menyadari peran pentingnya keluarga tersebut, maka butuh figur-figur anggota keluarga sebagai sumber inspirasi perkembangan bangsa. Maka Idul Adha kali ini sebagai momentum yang tepat untuk mengambil pelajaran dari suri tauladan (uswah hasanah ) dari tiga sosok sejarah yang sangat mempengaruhi perjalanan peradaban dan syariat Islam, yaitu sosok Ibrahim, Siti Hajar, dan Ismail.

Semua gerakan syariat ibadah haji dan penyembelihan hewan qurban adalah bermuara pada membangun komitmen dan kekuatan istiqomah tauhid yang diwujudkan dalam aneka fungsi kehidupan. Seseorang yang mempunyai kekuatan tauhid tingkat tinggi maka ibarat ia mempunyai “rem cakram “ kehidupan dalam melawan nafsu-nasfsu bisikan nafsul hayawan yang menjurus pada perilaku maksiat, koruptif, machiavelieme dan munkarat. Trio raksasa sejarah merupakan rekaman tiga orang yang mempunyai komitmen tauhid tinggi, ketika itu merupakan perintah Allah, maka ketiga sosok tersebut “ikhlas dan pasrah melaksanakan perintah-Nya”, walaupun itu mengorbankan nyawa sekalipun. Saat ini ruh ketiga raksasa sejarah tersebut harus ditancabkan kedalam jasad para suami/ayah, istri/ibu, dan pada anak-anak kita di era modernitas.

Dibutuhkan suami/ayah yang mempunyai karakter Ibrahim, yang mempunyai jiwa tauhid sehingga menjadi ayah/suami yang menjadi imam dan tauladan dalam keislaman yang mampu menjadi nakhoda yang mengarahkan istri dan anaknya dalam rel ketaatan pada Allah dan rasulnya. Dibutuhkan seorang istri/ibu berkarakter Siti Hajar yang dengan ikhlas dan taat kepada hal yang datang dari perintah Allah, sehingga ia mampu mendidik putranya dengan baik. Jika orang tuanya kompak,ikhlas, dan bertauhid tinggi akan melahirkan generasi atau anak yang mempunyai ketauhidan dan akhlak yang baik. Era modernitas membutuhkan karakter trio raksasa sejarah tersebut, karena tantangan dan ancaman yang menghantam keluarga-keluarga muslim begitu sangat cepat, berat dan multi komplek. Dengan “rem cakram tauhid yang kuat” maka segala badai godaan syaithan yang akan menghantam keluarga, akan mampu bertahan dalam kata “sami’na wa ‘ata’na “ (kami dengar kami taat) . Jika seluruh keluarga muslilm seperti itu, maka kebangkitan negara tinggal menghitung hari. Wallau ‘alam bissawab. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here