Beranda Opini Merakit Spiritualitas Haji

Merakit Spiritualitas Haji

13
0

Oleh: Muhamad Awod Faraz Bajri M.Ag

Dosen Sosiologi Agama /Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Sekolah Tinggi Agama Islam Al Muhajirin

Jemaah haji di seluruh dunia termasuk jemaah haji Indonesia bergerak menuju ke Padang Arafah untuk mencapai puncak ibadah ritual haji yaitu wukuf di Padang Arafah, sesuai yang diperintahkan oleh Nabi. Haji adalah Arafah.

Wukuf di Arafah merupakan media yang sangat penting bagi seluruh umat manusia untuk terus bertafakur tentang kehidupan yang serbacepat ini. Bagi manusia, kehidupan ini merupakan kehidupan yang menakutkan dan mengelisahkan, sungguh pun di dalamnya terdapat kesenangan, tetapi kesenangan ini hanya sementara saja bisa dinikmati oleh manusia.

Wukuf di Arafah mengajak kita dan para jemaah haji yang sedang menjalankan ibadah ritual haji untuk terus membuka mata batin seluas luasnya agar kita mampu menangkap secercah cahaya yang tersisa di tengah kegelapan malam.

Allah Swt sebagai pemilik alam semesta ini mengajak hati seluruh umat manusia termasuk yang sedang menjalankan ibadah ritual haji untuk bergerak menuju pusat gravitasi-Nya dalam rangka untuk menyalakan cahaya Allah yang dengannya manusia bisa menembus dan menangkap ruh-Nya. Bukankah Allah adalah cahaya di langit dan bumi?
Peristiwa puncak ibadah ritual haji mengingkatkan kita dan seluruh para jamaah haji untuk bisa mengikuti dan meneladani ajaran spirit Nabi Ibrahim di mana pengalaman rasional dan spritualnya mengantarkan kepada keyakinan tentang tauhid sebagai kebenaran hakiki.

Ajaran-ajaran yang dibawa oleh Nabi Ibrahim adalah menjadikan dan meletakkan Allah Sebagai pusat gravitasi umat manusia, menjadikanya sebagai sumber kehidupan, sumber seluruh kekuataan moralitas bahkan eksistensi Allah sendiri. Tanpa bantuan dan kehadiran Allah dalam kehidupan ini akan mengakibatkan kekacauan dan kehampaan yang luar biasa.

Keyakinan yang dibawa oleh ajaran spirit Nabi ibrahim ini berimplikasi langsung pada keharusan untuk terus menampakan eksistensi Allah dalam kehidupan nyata, sehingga umat manusia dan dunia dapat menyaksikan dan menikmati kehadiran sang pencipta di alam raya ini dalam kehidupan yang sangat teratur, harmonis dan seimbang.

Berdasarkan ajaran spirit yang dibawa oleh Nabi Ibarahim, Rasullah Saw telah mengajarkan umat manusia untuk terus menyembah hanya kepada Allah SWT, menyakini Allah sebagai Tuhan Yang Maha Esa. Tiada Tuhan selain Allah. Ajaran inilah yang harus dijalankan oleh seluruh umat manusia jika menginginkan keselamatan dan kedamaian dalam menjalani proses perjalanan hidup yang bergerak secara cepat.

Keyakinan seperti itu menunjukkan segala sesuatu yang selain Allah Swt merupakan makhluk yang tidak memiliki hak sedikit pun untuk diperlakukan sebagai Tuhan. Dan pada saat yang sama, hal itu juga mengambarkan ketidakbolehan manusia untuk diperlakukan semena-mena atau direndahkan harkat martabat kemanusiannya, karena manusia di hadapan Tuhan adalah sederajat, hanya nilai-nilai ketakwaan yang membuat manusia menjadi tinggi di hadapan Tuhannya.

Menurut seorang cendikiawan Muslim Ali Syariati Dalam catatan perjalanananya dalam berhaji yang berjudul Al-Faridha Al-Khamisah yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia menjadi “Makna Haji” mengungkapkan bahwa ketika melaksanakan wukuf di Padang Arafaf, jemaah haji harus memahami bahwa itu adalah gambaran saat-saat manusia akan dibangkitkan di Padang Mahsyar ketika kiamat terjadi. Tidak akan ada satu manusia pun yang bisa menolong. Seluruh umat manusia hanya memfokuskan dirinya sendiri.

Karena itu mereka harus banyak merenung dan memohon ampun kepada Allah atas berbagai macam perbuatannya selama di dunia. Padang Arafah juga merupakan gambaran saat manusia akan ditimbang segala amal perbuatan baik dan buruk. Di mana para jemaah haji akan diajak untuk merenung tentang dahsyatnya Padang Mahsyar yang pasti akan terjadi pada hari kiamat nanti.

Situasi yang sangat panas itu akan menjadi bukti bahwa panasnya hari kiamat jauh akan melebihi panasnya di alam dunia. Kita pun akan sulit untuk memungkiri bahwa kehidupan ini harus mengalami rasa panas dan kelelahan yang luar biasa. Semua manusia akan mempertanggungjawabkan perbuatannya dihadapan Allah

Implikasi yang sangat logis dari rangkaian ibadah ritual haji adalah munculnya tauhid sebagai nilai moral dalam kehidupan sosial. Tauhid Islam adalah akidah yang menumbuhkan moralitas proses pembebasan umat manusia. Dengan demikian ada hubungan yang satu sama lain tak bisa dipisahkan antara ide moneteisme pada satu sisi dan pengembangan moral kemanusian universal pada sisi yang lain

Inilah makna filosofi sebenarnya tentang ibadah ritual haji yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim, di satu sisi seluruh umat manusia harus menyakini dan menyembah Allah sebagai pusat moralitas umat manusia dan menjalankan segala perintah dan larangannya, dan di sisi lain umat manusia harus saling menolong dan membantu umat manusia yang membutuhkan sehingga ada keterkaitaan antara misi ritual ibadah haji kepada Allah dengan misi kemanusiaan.

Ukuran menjadi haji yang mabrur adalah ketika nilai-nilai ajaran spirit nabi ibrahim ditransformasikan dalam kehidupan sehari-hari setelah para jamaah haji pulang ke tempat tinggalnya masing masing.

Semoga para jemaah haji di seluruh dunia termasuk Indonesia mampu menjalankan spirit Nabi Ibarahim, sehingga ibadah ritual hajinya tidak terjebak hanya sebatas legal formalistik semata, akan tetapi nilai-nilai ritualnya bisa masuk kepada aspek kemanusian. Tanpa memahami makna dibalik ritualitas wukuf di Arafah maka ibadah ritualitas yang dilaksanakan akan terasa hambar tanpa kesan. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here