Beranda Opini Pembinaan Atlet dan (Mimpi) Subang Jawara

Pembinaan Atlet dan (Mimpi) Subang Jawara

38
0

Oleh : M. Epih Sumaryadi, S.Pd.,M.Pd.
KSPF SMPN di Kab. Subang

Tampilnya Subang sebagai “jawara” di berbagai bidang yang selama ini dikuasai oleh daerah lainnya di Jawa Barat menjadi harapan besar masyarakat pasca Haji Ruhimat – Agus Masykur (Jimat – Akur) dilantik setahun yang lalu. Perubahan ke arah yang lebih baik di berbagai lini seakan menjadi harga mati bagi keduanya sebagai amanat yang diembankan ke pundaknya. Hal ini patut dimaklumi mengingat masyarakat Subang sudah terlalu lama “berpuasa” dalam mendapatkan pemimpin yang benar-benar memiliki visi untuk menyejahterakan rakyatnya. Kasus korupsi yang menjerat ketiga kepala daerah sebelumnya seakan menjadi catatan tersendiri bagi masyarakat Subang untuk tidak mudah percaya dengan janji-janji yang pernah disampaikan oleh kepala daerah serta wakilnya yang saat ini menjabat.

Selama satu tahun berjalan, penulis mengakui bahwa ada kemajuan maupun prestasi yang dicapai oleh pemerintahan saat ini. Predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) yang diraih oleh pemerintah kabupaten Subang menjadi prestasi dan gengsi tersendiri sekaligus peristiwa bersejarah mengingat penilaian dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) tersebut belum pernah diraih oleh para kepala daerah sebelumnya. Demikian halnya dengan penataan kota yang sudah jauh lebih beradab daripada waktu-waktu sebelumnya. Tak sampai disitu, upaya untuk membangun integritas di kalangan aparatur pemerintahan pun gencar dilakukan melalui berbagai kegiatan yang bernafaskan nilai-nilai spiritualitas. Sayangnya, penulis belum melihat upaya sungguh-sungguh dari pemkab Subang dalam melahirkan generasi unggul yang benar- benar mampu mengantarkan Subang sebagai “jawara” di tanah Pasundan.

Minimnya dukungan Pemkab Subang terhadap pembinaan atlet di berbagai cabang olahraga menjadi salah satu hambatan dalam upaya mewujudkan Subang Jawara. Hal ini setidaknya terlihat dari minimnya perhatian Pemkab terhadap kesejahteraan para pelatih serta penghargaan kepada mereka yang telah berjasa mengharumkan nama Subang di berbagai event kejuaraan.

Kenyataan menunjukkan, tak sedikit putra putri terbaik Subang harus merogoh kocek sendiri untuk memenuhi kebutuhan peralatan selama latihan maupun keberangkatan menuju tempat perlombaan. Alhasil, para orangtua pun harus rela mengeluarkan anggaran yang tidak sedikit akibat minimnya bantuan dana dari pemerintah daerah setempat.

Besarnya pengorbanan yang diberikan oleh putra putri terbaik kita tak berhenti sampai disitu. Kehilangan masa-masa bermain ataupun bersenang-senang merupakan salah satu tantangan yang tidak semua orang dapat melewatinya. Kejenuhan akan padatnya jadwal latihan juga menjadi tantangan tersendiri yang harus mereka hadapi. Namun, mereka tetap sabar dan ikhlas menjalaninya demi mengharumkan “bendera” daerah yang mereka bawa. Apresiasi yang setinggi-tingginya tentunya harus kita berikan kepada mereka yang tengah dan telah berjuang keras memajukan daerahnya.

Berdasarkan penjelasan diatas, penulis sebagai praktisi pendidikan sekaligus Pembina olahraga mengajak seluruh pihak untuk bahu membahu dalam melahirkan atlet-atlet terbaik sehingga mampu mengharumkan nama Subang di tanah Pasundan maupun di tingkat nasional. Untuk itu, pemerintah daerah sebagai pengambil kebijakan di tingkat daerah diharapkan mampu melahirkan berbagai kebijakan yang mendukung tumbuh kembangnya putra-putri terbaik daerah untuk terus memacu prestasinya di bidang olahraga. Dalam konteks ini, keberpihakan anggaran menjadi salah satu faktor yang sangat menentukan keberhasilan perkembangan dunia olahraga di daerah. Penghargaan kepada para atlet serta Pembina olahraga menjadi sebuah keniscayaan dalam upaya memupuk semangat untuk berkompetisi.

Keberpihakan anggaran akan sangat menentukan tersedianya sarana pendukung sesuai yang dibutuhkan. Perlu diketahui bahwa tersedianya sarana pendukung serta peralatan yang memadai akan sangat menentukan kualitas latihan yang dilaksanakan. Untuk dapat melahirkan atlet renang misalnya, selain diperlukan kolam renang yang representatif, peralatan penunjang sesuai dengan standar yang ditetapkan menjadi sebuah keharusan. Tanpa disertai sarana pendukung yang memadai, sangat sulit bagi siapa pun untuk dapat berprestasi sekalipun memiliki potensi yang sangat besar. Semangat para atlet muda tersebut tidak akan muncul apabila berbagai kebutuhan untuk kepentingan latihan tidak terpenuhi secara layak.

Selain memberikan perhatian khusus kepada para atlet dan para pembina olahraga, pemerintah daerah pun diharapkan mampu merumuskan kebijakan jangka panjang yang mendukung lahirnya atlet-atlet terbaik daerah. Kebijakan alih kelola yang diberlakukan sejak beberapa tahun lalu hendaknya benar-benar dimanfaatkan oleh pemerintah daerah kabupaten Subang untuk menggali potensi yang dimiliki oleh daerahnya. Adapun mendirikan sekolah-sekolah atlet dapat menjadi langkah strategis yang dapat diambil oleh pemerintah daerah dalam rangka menyiapkan atlet-atlet profesional. Untuk itu diperlukan kesamaan visi antara kepala daerah dengan DPRD setempat dalam hal kebijakan anggaran. Hal ini dikarenakan persetujuan dari pihak DPRD akan sangat menentukan keberlanjutan program yang digagas oleh pihak eksekutif.

Adapun bagi para atlet yang tersebar di berbagai daerah hendaknya tetap menjaga semangat mereka untuk senantiasa mempersembahkan prestasi terbaiknya. Keterbatasan sarana hendaknya tidak menjadi kendala atau penyebab untuk melahirkan rasa pesimisme. Sebaliknya, kekurangan yang ada hendaknya dijadikan sebagai penyemangat untuk terus berusaha memberikan yang terbaik. Dalam hal ini dukungan moril dari berbagai pihak seperti sekolah, orangtua serta tokoh masyarakat sangatlah diharapkan. Dengan demikian, Subang Jawara pun tidak hanya sebatas jargon, namun benar-benar menjadi kenyataan. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here