Beranda Subang Abah Uba Berjualan Sejak Tahun 1945, Hobi dan Merasa Kesepian Diam di...

Abah Uba Berjualan Sejak Tahun 1945, Hobi dan Merasa Kesepian Diam di Rumah

14
0
MANGKAL: Abah Uba menggelar dagangannya di emperan sebuah swalayan di Cadika Subang, yang saat ini menjadi tempat "mangkalnya".

Dengan tubuh renta, dia gendong berbagai macam sapu, teriknya matahari tidak mengahalangi langkahnya untuk terus berusaha menawarkan dagangannya. Padahal usianya sudah 94 tahun, usia yang pantas untuk lebih baik beristirahat di rumah ketimbang harus menyusuri jalan-jalan kota, ditempa panas matahari, debu, bahkan hujan jika musim telah berganti.

INDRAWAN,Pasundan Ekspres

Dialah Abah Uba, asal Desa Tambakan RT 06 RW 02 Kecamatan Jalancagak, Subang. Pada usianya yang ke 94, Abah Uba masih berpenglihatan awas, juga berpendengaran jelas.

Dia mengaku jarang sekali sakit, memang terlihat bugar, meskipun tubuhnya tidak bisa menyembunyikan caranya berjalan, yang gopoh karena renta usia dan gigi yang sudah habis.

Siang itu Abah Uba nampak sedang menikmati semilir angin sepoy-sepoy, di emperan swalayan yang terdapat di Cadika Subang. Sambil duduk bersandar, matanya terpejam, padahal sebatang roko yang dia selipkan di kedua jari tangan kanannya masih menyala, sesekali dia hisap roko itu.

Seperti otomatis, dia melemparkan senyum ketika Pasundan Ekspres menghamipirinya. Sambil bertanya atau mungkin menawarkan dagangannya dia berkata, “A bade sapu?,” kemudian Abah Uba membenarkan cara duduknya, dari situlah pembicaraan kami dimulai, Abah Uba juga bercerita banyak hal, termasuk kapan dia mulai berjualan.

“Abah berjualan sejak tahun 1945, hampir semua pelosok Subang ini sudah Abah datangi, jualannya macam-macam, cuma sejak 4 tahun kebelakang berjualan macam-macam sapu,” cerita Abah Uba.

Kemudian dia juga mengaku jika usahanya sejak dulu bukan saja berjualan, namun sempat juga mengayuh becak. Saat ini Abah Uba menjual berbagai macam sapu yang dia dapatkan dari kiriman salah satu pabrik di Pangandaran.

Dalam sebulan pengirim datang, untuk menagih uang setiap sapu yang laku dijual Abah Uba. Setiap stor Abah Uba mengaku paling tinggi 1 juta rupiah.

BACA JUGA:  Wahyudin, Tukang Azan yang Kini Menjadi Anggota DPRD Subang

“Dari 1 juta, yang disetor nanti Abah dapat 300 ribu, kalau sebulannya 1 juta, kalau kurang, ya Abah juga gak dapat 300 ribu, bisa kurang juga,” jelasnya.

Abah Uba tinggal berdua dengan istrinya, anak-anak dan cucunya sudah punya rumah dan tinggal dengan keluarganya masing-masing di Purwakarta dan Sumatra. Anaknya yang tinggal di Purwakarta setiap hari libur, kata Abah Uba rutin mengunjungi.

Menurutnya, anaknya juga tidak melarang Abah Uba untuk tetap berjualan, meski usianya sudah sangat tua. Alasan Abah Uba tetap berjualan juga terbilang unik, dia menyebutkan selain hobi, adalah kesepian, maka dia tetap berjualan.

“Alhamdulilah, kalau penghasilan meski hanya 300 ribu, cukup. Anak-anak juga tidak pernah melarang saya untuk jualan, yang penting sehat kata anak-anak juga. Karena saya jualan ini hobi, malah saya suka merasa kesepian kalau diam di rumah, sudah tidak punya teman, hanya tinggal istri saja,” tambahnya.

Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu, saat itu sudah semakin sore juga, Abah Uba terlihat seperti akan berkemas untuk pulang. Cerita Abah Uba juga terhenti sampai disitu, namun semangat dan keceriaannya tidak merasakan lelahnya mengarungi hari-harinya berjualan. (idr/sep)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here