Beranda Headline Nembang di Atas Pohon Rambutan dan Pernah Dibayar 5 Rupiah Usai Manggung

Nembang di Atas Pohon Rambutan dan Pernah Dibayar 5 Rupiah Usai Manggung

45
0
MENGHIBUR: Nunung Nurmalasari, Bentang Sinden Nasional asal Subang saat menghibur ribuan masyarakat di panggung hiburan pekan kebudayaan daerah Jawa Barat, pada Senin (7/10). INDRAWAN/PASUNDAN EKSPRES

Nunung Nurmalasari Bentang Sinden Nasional Asal Subang Juara Festival Titim Fatimah 2004

Siapa yang tidak mengenal Nunung Nurmalasari di kancah kepesindenan Jawa Barat bahkan nasional? Meski usianya sudah hampir menginjak 50 tahun, namun setiap penampilannya nyaris selalu memukau para penontonnya.

INDRAWAN, Subang

Nunung Nurmalasari adalah “Bentang Sinden” Subang, yang namanya mulai diperhitungkan sejak menyabet 4 kategori sekaligus pada Pasanggiri dan Festival Sinden Piala Titim Fatimah Tingkat Nasional tahun 2004 lalu.

“Waktu itu juara satu kategori pasanggiri, gelar favorit pasanggiri pilihan penonton. Juara kategori festival dan favorit festival pilihan penonton. Semua gelar itu diraih lewat tiga tembang yang dilantunkan, yaitu Bangbung Hideung, Kulu-kulu Bem, dan Kulu-kulu Gancang,” ujar Ibu satu anak tersebut.

Saat itu, Si Bambung Hideung, istilah populer untuk memanggil Nunung Nurmalasari, mendapatkan beberapa penghargaan. Selain uang tunai, piala, piagam dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Nunung mendapat sebuah sepeda motor.
“Saat itu saya tak menduga sama sekali bisa menang,” tambahnya.

Maklum, pada awalnya, Nunung mengaku tidak pernah berniat ikut lomba tersebut. Namanya didaftarkan oleh salah seorang adiknya. Setelah tahu bahwa acara itu berskala nasional dan diikuti sejumlah pesinden yang sudah punya nama besar.
“Setelah itu, ya bismillah saja! Di luar dugaan, ternyata hasilnya sangat memuaskan,” ungkapnya.

Nunung Nurmalasari mengaku mulai senang menyanyi sejak kelas I SD. Bahkan sembari tersipu, pemilik mata belok ini bercerita kalau dirinya acap kali ngawih (nembang) sembari nangkring di atas pohon rambutan di dekat rumahnya. Lalu pada kelas III SD, Nunung dimasukkan ke kursus seni kepesindenan, di bawah bimbingan Mimin Mintarsih, di Subang, Jawa Barat.

Untuk ke tempat kursus, ia harus berjalan kaki sekitar setengah jam menyusuri pematang sawah, melewati hutan, kebun bambu, dan menyeberangi sungai. Saat malam menjelang, ia pulang dengan obor di tangan. Sejak kelas III pula, Nunung kecil sudah mulai ditanggap nyinden. Akibatnya, ia sering dipanggil kepala sekolah karena sering bolos. Kala itu, pada 1975-1976, ia masih ingat betul, bayarannya cuma lima rupiah.

BACA JUGA:  HUT Yogya, 90 Siswa Ikuti Lomba Tarian Jaipong

“Dulu, kalau manggung gak pakai kebaya seperti sekarang, masih 8 tahun usianya juga, pakai pakaian biasa aja, celana pendek, kawihnya juga baru hafal dua, Peuyeum Gaplek dan Mipit Kembang,” jelasnya.

Selanjutnya, tradisi manggung terus berjalan hingga sekarang. Tentu saja, tembangnya mulai beragam. Bahkan sejak kelas I Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) Bandung, Nunung sudah mulai masuk dapur rekaman. Sudah lebih dari 20 album kaset dihasilkan, baik degung, kliningan, jaipong, pop Sunda, dan sebagainya. Tak hanya itu, sudah puluhan pula gelar disabet dari berbagai lomba. Kini, dia menetap di Tegal Kalapa Subang, kegiatannya selain manggung, dia juga mengajar di SMAN 3 Subang. (idr/vry)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here