Beranda Bandung Ngalokat Cai Nyalametkeun Solokan, Jaga Kekayaan Alam dari Kepentingan Bisnis

Ngalokat Cai Nyalametkeun Solokan, Jaga Kekayaan Alam dari Kepentingan Bisnis

9
0
TRADISI: Upacara Ngalokat Cai Nyalametkeun Solokan diperagakan oleh sejumlah muda mudi warga Desa Cihideung dalam rangka menjaga sumber air Irung-irung ini agar tidak dikuasai pengusaha untuk kepentingan bisnis. EKPO SETONO/PASUNDAN EKSPRES

PARONGPONG-Pembangunan komersil hampir menjalar ke sebagian wilayah Desa Cihideung Kecamatan Parongpong Kabupaten Bandung Barat (KBB). Namun warga setempat berupaya menjaga keseimbangan alam sekaligus menjaga sumber daya alamnya dari tangan pengusaha melalui pelestarian tradisi budaya.

Salah satunya, melalui upacara adat ‘Ngalokat Cai Nyalametkeun Solokan’.

Diterangkan Tokoh Masyarakat sekaligus Budayawan Lokal, Mas Nanu Muda yang akrab dipanggil Abah Nanu ini, pada mulanya Ngalokat Cai Nyalametkeun Solokan dilakukan masyarakat Cihideung zaman dulu yang kesehariannya sebagai petani padi untuk menyelaraskan kehidupan sekaligus mensejajarkan manusia dengan alam.

Akan tetapi di masa saat ini, upacara adat tersebut dilaksanakan sebagai upaya menjaga kekayaan alam dari kepentingan bisnis. Mengingat, dua sumber air yang berada di kawasan Cihideung berada di dalam areal komersil Lembang Park and Zoo.

“Air yang di sumber Irung-irung itu kan sekarang ada di wilayah perusahaan Lembang Park and Zoo tapi sumber airnya tidak dijual sama (pemilik) yang dulu,” kata Bah Nanu seusai upacara adat, Minggu (6/10).

Sumber air yang berada di Dusun Kancah Cihideung ini kemudian oleh masyarakat setempat diberi nama Irung-irung karena memiliki dua sumber air yang diibaratkan laki-laki dan perempuan.

Melalui upacara Ngalokat Cai Nyalametkeun Solokan dengan tema, ‘Air Sebagai Sumber Daya Kehidupan Bagi Masyarakat’, ditegaskan dia, bertujuan agar sumber air Irung-irung yang mengaliri tiga RW yakni RW 10, 11, dan 13 ini tidak dikuasai pengusaha untuk kepentingan bisnis. Pasalnya, masih banyak masyarakat di Cihideung yang menggantungkan pertaniannya pada sumber air belerang yang berasal dari Gunung Tangkuban Parahu ini.

“Walaupun kemarau panjang air ini tidak pernah kering. Cuma masalahnya air ini tidak bisa ditanami oleh ikan tapi untuk tanaman bagus, subur. Karena air ini air belerang,” ucapnya.

BACA JUGA:  Tradisi "Ngopak" yang Biasa Dilakukan Emak-emak Kampung Simpang Desa Tambakmekar Menjelang Hajatan

Di samping itu, dia menjelaskan, dengan tetap melestarikan tradisi budaya maka para pengusaha yang kini merambah ke kawasan Cihideung akan tahu bahwa, air Irung-irung sangat dijaga masyarakat demi berlangsungnya usaha pertanian yang menjadi mata pencaharian masyarakat setempat.

“Asalnya delapan tahun (upacara adat Ngalokat Cai Nyalametkeun Solokan) mengalami kepakeman. Lalu digiatkan kembali supaya sumber air dalam bahasa sundanya ‘huluwotan’ tidak dikuasai oleh para pengusaha,” ungkapnya.

Ditambahkan dia, kondisi masyarakat Cihideung saat ini walaupun tinggal di pedesaan namun sudah mulai tercemari budaya luar sehingga cenderung individualis.

“Jadi dengan upacara adat ini juga sebagai sarana untuk menjalin silaturahmi sekaligus menjaga kerukunan antar warga yang saat ini mulai terkikis,” tandasnya. (eko/sep)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here