Beranda Opini Desa Kesongo Jawa Tengah Ubah Sampah jadi Bernilai Ekonomi

Desa Kesongo Jawa Tengah Ubah Sampah jadi Bernilai Ekonomi

74
0

– Priyono, Dosen Fakultas Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta(UMS)
– Azzahra Husna Faridah,mhs smt 1 Fakultas Geografi UMS

Sampah kebanyakan jadi masalah di beberapa daerah di Indonesia terutama daerah perkotaan yang memiliki luas lahan terbatas dan dengan kepadatan penduduk yang tinggi serta heterogen, akan tetapi tidak terjadi di desa Kesongo yang memiliki kearifan lokal, bisa merubah sampah menjadi bernilai ekonomi dan memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pendapatan rumah tangga dengan melakukan pengolahan yang sistematis sehingga bisa meningkatkan kesejahteraan.

Pengelolaan sampah adalah proses yang bertujuan mengubah sampah menjadi material yang memiliki nilai ekonomis dan mengolah sampah agar menjadi material yang tidak membahayakan bagi lingkungan hidup. Di sisi lain ternyata bagi masyarakat yang kreatif, sampah bisa menyediakan lapangan pekerjaan sehingga mengurangi tingkat pengangguran.

Pengelolaan sampah dilakukan untuk memulihkan sumber daya alam. Pengelolaan sampah bisa melibatkan zat padat, cair, gas, atau radioaktif dengan metode dan keahlian khusus untuk masing masing jenis zat.

Kegiatan mengolah sampah berbeda antara daerah perkotaan dengan daerah pedesaan, juga antara daerah perumahan dengan daerah industri. Pengelolaan sampah yg tidak berbahaya dari pemukiman di area perkotaan biasanya menjadi tanggung jawab pemerintah daerah, sedangkan untuk sampah dari area komersial dan industri biasanya ditangani oleh perusahaan pengolah sampah.

Warga Desa Kesongo, telah berhasil dalam proses pemilahan sampah yang dimasukkan ke keranjang yang sudah dibedakan menurut jenis sampah. Dengan menyediakan keranjang sampah yang dibedakan menjadi 2 jenis yaitu Keranjang iso bosok yang berarti khusus sampah-sampah yang bisa membusuk (organik) dan Keranjang ora iso bosok untuk sampah yang tidak bisa membusuk (non organik).

Kegiatan yang mulanya dilakukan oleh satu warga itu, kemudian berkembang merayap seakan menjadi racun positif bagi warga yang lain untuk ikut bersama-sama melakukan pemilahan sampah dimulai dari rumah masing-masing warga sampai muncul ide untuk mengolah sampah menjadi barang yang bernilai ekonomis.

Desa Kesongo yang letaknya berdekatan dengan Rawa Pening,sebuah hamparan danau yang memiliki luas perairan 2.670 ha dan 75 % ditutupi tanaman enceng gondok, sangat potensial dan cocok untuk mengembangkan kerajinan tangan. Enceng gondok yang melimpah di Rawa Pening selain dapat menyebabkan pendangkalan wilayah perairan, mengganggu ekosistem, mengurangi estetika perairan, ternyata karunia Tuhan tersebut dapat dimanfaatkan dan diolah menjadi kerajinan yang unik dan bernilai jual.

Untuk menambah harga beli bahan enceng gondok di petani, warga setempat mengolah kembali enceng sebelum dijual.Warga mengolah enceng gondok menjadi kerajinan asli hasil karya mereka sendiri mulai dari pembabatan enceng gondok dari danau rawa pening hingga proses pemasaran.
Proses pengolahan Enceng Gondok di Desa Kesongo ini dengan pengolahan kembali secara fisik. Yang sebagai bahan kerajinan anyaman hanya tangkai daunnya saja. Bagian tanaman lain yaitu akar,daun,tunas dan bunganya dibuang. Daun eceng gondok bisa dipakai untuk kompos atau makanan ternak.
Tangkai Eceng Gondok yang sudah di pilih dibersihkan dengan air bersih. Setelah itu dijemur kurang lebih selama 7hari dengan terlebih dahulu dikeluarkan kandungan airnya dengan di pres secara manual pengeringan akan lebih cepat. Pengelompokan tangkai eceng gondok berdasarkan panjangnya atau besar penampangnya. Tangkai yang sudah kering dapat dibelah belah menjadi bagian-bagian yang lebih tipis. Sebelum membelah dan membentuk anyaman, pengrajin perlu membuat pola produk yang akan dihasilkan, bisa membuat pola tas ataupun sepatu dan aksesoris lainnya. Pembuatan pola ini diaplikasikan pada kertas koran atau cukup digambar.Setelah produk sudah terbentuk, maka selanjutnya kita bisa mewarnai atau melakukan finishing.

Potensi enceng gondok menjadi kerajinan sangat besar karena dapat diolah menjadi berbagai macam kebutuhan rumah tangga, souvenir, hingga kebutuhan fashion dengan desain unik dan memiliki peluang pasar yang luas. Di Desa Kesongo juga terdapat UMKM kerajinan enceng gondok yaitu Bemboo Art Kesongo dan Bengok Craft.

UMKM di Kesongo memberdayakan masyarakat melalui pengembangan pengolahan enceng gondok menjadi aneka kerajinan. Karena mayoritas Desa Kesongo sebagian menjadi petani enceng gondok.
Mereka juga bekerjasama dengan perangkat desa Kesongo, untuk melakukan workshop demi upcycle para petani enceng gondok agar memiliki skill untuk berkreasi di bidang kerajinan. Membutuhkan waktu dan kerja keras, namun perlu ada yang memulai dan memfasilitasi Bengok Craft yang merupakan UMKM kerajinan enceng gondok di Kesongo bekerjasama dengan petani dan warga setempat untuk mengembangkan usaha pengolahan enceng gondok. Petani hanya mendapat upah dari penjualan eceng gondok kering Rp 5 ribu per kilogramnya. Dari 40 kilogram eceng basah, jika dijemur akan menyusut jadi maksimal 6 kilogram. Omzet Bengok Craft rata-rata Rp 15 juta per bulan. Mengingat pengrajin masih terbatas, dan akan terus dikembangkan. Sepuluh kilogram eceng gondok kering dapat dijadikan 100 buku siap jual. Dipotong ongkos produksi keseluruhan hanya Rp 30 ribu. Mulai dari pembelian kertas, lem hingga upah pengrajin.

Untuk pemasaran kerajinan enceng gondok, Bengok Craft mempromosikan produk secara online dan offline. Secara online ada di sosial media, sedangkan secara offline melalui pameran dan terdapat juga Art Gallery di Desa Kesongo.Bengok craft masuk dalam kategori recycle pada saat menggelar stand di pameran Inacraft 2019 di Jakarta Convention Center. Produk yang diseleksi di Inacraft 2019 melalui proses yang menjamin kualitas tiap produknya.

Agar dapat memiliki barang kerajinan enceng gondok ini butuh menyiapkan biaya sekitar Rp 10.000 – Rp 500.000. Tergantung tingkat kesulitannya, paling murah yaitu gantungan kunci dan gelang dengan harga Rp 10.000 atau Rp 20.000 saja.

Mayoritas warga Desa Kesongo yang bekerja sebagai petani, sekarang sudah banyak juga yang berfrofesi sebagai pengrajin. Mereka bekerja sama untuk menambah pendapatan dan memperluas lapangan pekerjaan bagi masyarakat.Sehingga lingkungan di Desa Kesongo menjadi bersih karena warga mengolah sampah dengan baik. Desa ini sekarang menjadikan desa yang ramai dikunjungi wisatawan untuk melihat langsung proses pengolahan enceng gondok menjadi kerajinan.

Semoga kreativitas warga desa Kesongo, Jawa tengah bisa menginspirasi desa lain di Indonesia menjadi desa yang ramah lingkungan dan bersih dari sampah serta merubahnya bernilai ekonomi. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here