Beranda Bandung Ekhsibisi Mengolah Limbah Lingkungan dan Rumah Tangga Bernilai Ekonomis

Ekhsibisi Mengolah Limbah Lingkungan dan Rumah Tangga Bernilai Ekonomis

19
0
EKSHIBISI: NEMov Foundation bersama Karang Taruna Desa Cihideung Kecamatan Parongpong mengajak masyarakat mengolah limbah. EKO SETIONO/PASUNDAN EKSPRES

Berikan Stimulus Anak-Anak untuk Pengembangan Kreativitas

NEMov Foundation bekerjasama dengan Karang Taruna Desa Cihideung Kecamatan Parongpong Kabupaten Bandung Barat (KBB), melakukan ekshibisi mengolah limbah lingkungan dan limbah rumah tangga menjadi nilai ekonomis.
==============
Ekshibisi yang menjadi bagian dari Bandung Design Biennale 2019, tidak hanya pemuda dan orang tua saja yang terlibat. Anak-anak usia sekolah dasar (SD) pun turut dibangun kesadaran lingkungannya dan diberikan stimulus untuk mengembangkan kreativitasnya.

Ketua Pelaksana dari NEMov Foundation, Christopher Patrick mengatakan, terlaksananya ekshibisi mulai dari tanggal 26 Oktober hingga 3 November 2019, lahir karena terinspirasi dari minuman wedang uwuh. Meskipun terlihat seperti sampah, namun memiliki banyak manfaat. Dari minuman tersebut lahir berbagai gagasan kreatif di samping cara pandang baru terkait sampah.

“Nah inspirasi itu, kita hadirkan di sini untuk merespon masalah sampah yang terjadi di daerah di lingkungan sekitar, bahkan di rumah kita sendiri,” kata Patrick saat ditemui di Uwuh Art Jl. Terusan Sersan Bajuri No.88, Cihideung – KBB, Senin (4/11).

Paradigma uwuh, Patrick menerangkan, cara pandang masyarakat ketika melihat sampah yang mulanya hanya sekedar suatu benda yang tidak memiliki fungsi dan manfaat akan berubah. Karena menyadari, bahwa sampah bisa sangat berarti karena memiliki fungsi dan nilai yang baru, disamping menjadi suatu benda yang indah dan bermanfaat bagi orang banyak.

“Jadi kalau lihat sampah tidak cepat menyimpulkan sampah, karena itu bisa diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat,” ungkapnya.

“Contoh bangunan Uwuh Art ini, awalnya itu bedeng bekas kontraktor. Kita ‘reuse’ dari pada dibuang dan berdampak buruk bagi lingkungan lebih baik kita gunakan menjadi sebuah karya. Jadi apapun yang ada di lingkungan ataupun di rumah bisa kita ‘reuse’ supaya memiliki nilai dan kegunaan kembali,” paparnya.
Patrick menerangkan, untuk mengendalikan dampak negatif dari sampah harus dilakukan dengan kesadaran kolektif. Sebab, dengan bersama-sama persoalan sampah yang dari tahun ke tahun menjadi masalah di masyarakat bisa teratasi.

“Tidak hanya dengan para pemuda, ibu rumah tangga, kita juga berkolaborasi dengan anak-anak SD. Membangun kesadaran dan kecintaan terhadap lingkungan harus dimulai oleh semua usia,” tegasnya.

Peraga dari Uwuh Art, Astera Dominica menambahkan, dirinya terpikir membuat pot bunga dari bahan limbah pakaian dan kain bekas lainnya dikarenakan rasa prihatinnya terhadap lingkungan. Tidak sedikit masyarakat yang belum sadar terhadap lingkungan membuang limbah rumah tangga. Seperti kasur dan kursi langsung ke sungai dan mengakibatkan dampak buruk bagi lingkungan.

“Memang saya sebelumnya melukis kain atau baju, tapi materialnya ramah lingkungan. Saya juga harus memperhatikan keamanan dan dampak lingkungan. Jadi bahannya organik, termasuk cat yang digunakan pun ramah lingkungan,” tandasnya.(eko/vry)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here