Beranda Opini MANAGEMEN SAMPAH BELAJAR DARI DESA KESONGO, JAWA TENGAH

MANAGEMEN SAMPAH BELAJAR DARI DESA KESONGO, JAWA TENGAH

210
0

Penulis: 1.Priyono,Dosen Fakultas Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta(UMS)
2.Azzahra Husna Farida, mhs Fakultas Geografi UMS

Terdengar sebauh cerita daerah pedesaan yang subur, tumbuhan yang menghijau, di atas tanah yang datar ditumbuhi pohon dan semak yang masih lebat, interaksi manusia dan alam nya sangat bagus,bisa dikata lingkunganyang asri dan penuh kedamaian, datang seorang pendatang dari Singosari singgah di desa yang belum punya nama. Akhirnya sang petualang tersebut ingin berdomisili di desa itu maka dia memberi nama desa tersebut, selanjutnya orang tersebut jalan-jalan mengelilingi desa menemukan sembilan mata air maka orang tersebut terinspirasi menamai desa tersebut DESA KESONGO. Orang tersebut pergi lagi mau menjemput anak dan istrinya diajak tinggal di desa Kesongo. Lama kelamaan desa itu ramai banyak penghuninya dan dia diangkat oleh warga desa menjadi Demang pertama. Maka hiduplah sekelompok masyarakat rukun dan damai meskipun penduduk penduduk masih dalam kehidupan primitif dengan menganut pendekatan determinisme, sangat menggantungkan dengan kondisi alam. Maka serasa harmoni manusia alam sangat terasa.

Sembilan mata air tersebut sampai sekarang masih ada, dan masyarakat menyebutnya dengan sebutan TOK SONGO. Dan mata air tersebut menjadi daya tarik bagi kehidupan bagai magnit untuk manusia dan bermanfaat bagi masyarakat Kesongo yang terutama bagi masyarakat yang di sebelah barat mata air.

Desa Kesongo, lama – kelamaan menjadi ramai dengan adanya pendatang yang ingin menetap dan tinggal di desa itu.Kebahagiaan warga Desa Kesongo adalah jika seluruh warga bahagia, aman, tentram, berkecukupan, sehat, dan tinggal di lingkungan yang bersih. Warga Kesongo sangat antusias terhadap kebersihan lingkungan dan kepedulian pengelolaan sampah, sebab sampahku adalah tanggung jawabku.

BACA JUGA:  Dinamika Politik di Indonesia dan pengaruh Oligarki

Desa Kesongo merupakan salah satu desa yang berada di sekiar Danau Rawa Pening. Mempunyai luas wilayah 158.566 Ha dengan luas pemukiman 30.106 Ha dan ketinggian diatas permukaan laut 14m. Desa Kesongo terletak di perbatasan antara Kabupaten Semarang dengan Kodya Salatiga. Jarak antara Desa Kesongo dengan Salatiga sepanjang 8km yang dapat ditempuh selama 18menit. Sedangkan jarak antara Desa Kesongo dengan Kabupaten Semarang 20km yang dapat ditempuh selama 35menit.

Desa yang terletak di sebelah timur Rawa Pening menjadi salah satu potensi wisata alam yang sangat baik untuk dikembangkan.Selain Rawa Pening, batas wilayah Desa Kesongo sebelah Utara terdapat Desa Lopait Kabupaten Semarang, sebelah Selatan terdapat Desa Candirejo Kabupaten Semarang, dan sebelah Timur terdapat Kelurahan Blotongan Kabupaten Semarang.

Aktivitas warga yang kebanyakan bekerja sebagai petani dan nelayan membuat desa ini semakin ramah untuk di kunjungi. Penggunaan lahan di Kesongo masih didominasi oleh sawah. Luas sawah teririgasi sendiri 122.180 Ha dan luas sawah tadah hujan 6.280 Ha.Sehingga aktivitas pertanian mendominasi dan sangat tergantung padanya.

Warga Desa Kesongo telah melakukan pemilahan sampah yang dimasukkan ke keranjang yang sudah dibedakan menurut jenis sampah. Dengan menyediakan keranjang sampah yang dibedakan menjadi 2 jenis yaitu Keranjang iso bosok yang berarti khusus sampah-sampah yang bisa membusuk (organik) dan Keranjang ora iso bosok untuk sampah yang tidak bisa membusuk (non organik). Namun tidak semua sampah di buang, karena dapat digunakan untuk kerajinan tangan.Apa yang dilakukan warga Kesongo tersebut, bukan karena adanya isu bahaya sampah atau semacamnya. Mereka hanya ingin lingkungannya bersih dan sekadar membantu tetangga yang membuat kerajinan berbahan plastik. Meskipun pada mulanya belum ada dua jenis keranjang sampah pembeda tersebut.

BACA JUGA:  SUNGAIKU YANG MALANG

Kegiatan itu mulanya di lakukan oleh salah satu warga yang tidak nyaman melihat selokan depan rumah banyak tumpukan sampah, dan berkembang menjadi beberapa orang termasuk karang taruna dan ibu-ibu PKK yang melakukan pemilahan sampah. Sehingga akhirnya muncul ide untuk mengolah sampah menjadi kerajinan yang memiliki nilai ekonomis tinggi dan juga ide untuk menyediakan keranjang sampah sesuai dengan jenisnya di rumah-rumah warga.

Proses pemilahan sampah-sampah produksi Rumah Tangga ini masih berlanjut setelah sampah yang dikumpulkan dari rumah tangga. Di angkut ke penampungan sementara oleh petugas pengangkut sampah untuk dilanjutkan pemisahan sampah.

Sampah yang bisa dimanfaatkan dikumpulkan sementara yang tidak bisa diangkut truck ke TPA. Setelah dibentuk satgas sampah yang dipimpin langsung oleh Babinsa setempat, pengelolaan sampah di Kesongo semakin tertata. Hingga warga Desa Kesongo bertekad untuk tidak lagi mengirim sampah ke TPA, semua harus bisa dimanfaatkan oleh warga Desa Kesongo.

Bagi warga Desa Kesongo sangat cocok untuk mengembangkan kerajinan tangan, selain sampah non organik, mungkin mereka juga bisa mengolah sampah organik. Seperti enceng gondok yang banyak terdapat di sana karena dekat dengan rawapening dan dianggap sebagai gulma yang mengganggu. Enceng gondok yang melimpah di Desa Kesongo memiliki dua sisi yang saling bertolak belakang. Selain dapat menyebabkan pendangkalan wilayah perairan, mengganggu ekosistem, mengurangi estetika perairan, enceng gondok dapat dimanfaatkan dan di olah menjadi kerajinan yang unik dan bernilai jual.

Potensi enceng gondok menjadi kerajinan sangat besar karena dapat diolah menjadi berbagai macam kebutuhan rumah tangga, souvenir, hingga kebutuhan fashion dengan desain unik dan memiliki peluang pasar yang luas. Di Desa Kesongo terdapat UMKM kerajinan enceng gondok yaitu Bengok Craft dan Bemboo Art Kesongo.Enceng gondok selain untuk kerajinan dapat juga memiliki beberapa keuntungan.Selain hasil produksi yang menguntungkan enceng gondok juga dapat menjadi daya tarik wisatawan dari luar daerah untuk berkunjung dan melihat langsung proses produksi.

BACA JUGA:  Nyontek itu Musibah Besar

Guna menambah harga beli bahan enceng gondok di petani, warga setempat mengolah kembali enceng sebelum dijual.Warga mengolah enceng gondok menjadi kerajinan atau buah tangan produksi asli hasil karya mereka sendiri mulai dari pembabatan enceng gondok dari danau rawa pening hingga proses pemasaran. Pemerintah sudah mulai mempersiapkan dana untuk mengolah enceng gondok sejak 4 tahun lalu. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here