Beranda Opini Rombak Kurikulum?

Rombak Kurikulum?

4625
2

Penulis : Mustar, S.Pd., M.M.

Guru Geografi SMAN 5 Bandung

Tidak tanggung-tanggung, presiden menugaskan Mendikbud baru untuk segera merombak kurikulum. Sebagai orang yang sehari-hari mempraktekkan pembelajaran dengan kurikulum hari ini, kurikulum 2013, rasanya tugas berat itu tidak berlebihan. Memang tidak perlu menyalahkan kurikulum sekarang, tetapi kurikulum sekarang bisa menjadi pembelajaran berhargaa bagi para pengembang di tingkat nasional. Kurikulum seharusnya menjadi “senjata” bagi guru dalam melaksanakan pembelajarn, dan sebaiknya guru menikmati proses pembelajaran dengan kurikulum. Bukan malah sebaliknya, guru terbebani kurikulum.

Jika guru terbebani kurikulum maka jangankan untuk menembakkan “senjata”, belum apa-apa sudah terseok-seok. Beruntung di negeri ini sebagian besar guru adalah pejuang yang tidak mengenal lelah, banyak diantara mereka “terpaksa” melakukan improvisasi untuk mensiasati agar pembelajaran berlangsung menggembirakan bagi siswa maupun bagi gurunya.

Yang menarik dalam kurikulum kita adalah Silabus dan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran). Konon ukuran guru rajin dan belum rajin adalah ketersediaan Silabus dan RPP yang dibuat sendiri (original), bukan hasil menyalin dari buatan orang lain. Oleh karena itu sangat sering dilaksanakan pelatihan yang berkaitan dengan silabus dan RPP. Ntah berapa milyar uang yang sudah terpakai untuk kedua makhluk itu, silabus dan RPP. Namun tidak salah jika ada yang bertanya dengan tanda tanya besar, apakah Silabus dan RPP selalu diimplementasikan dalam setiap pembelajaran ? Tanyakan pada rumput yang bergoyang, kata Ebiet G Ade.

Hal lain yang menarik dalam kurikulum kita adalah banyaknya muatan yang dititipkan. Belakangan muncul muatan yang kudu tersedia dalam RPP, seperti literasi, kemudian 4C Communication, Collborative, Critical Thinking, Creativity) konon adalah kompetensi yang harus dimiliki siswa sebagai penghuni abad ke 21, lalu ada PPK (Penguatan Pendidikan Karakter). Terakhir yang muncul dalam setiap pelatihan adalah STEM (Science Technology, Engineering, Math). Barangkali mendikbud sekarang perlu merenungkan output seperti apa yang dihasilkan oleh sekolah dengan muatan sekomplek itu.

BACA JUGA:  Pemilihan Pemimpin dalam Islam

Di luar itu ada lagi yang patut kita angkat juga, adanya program atau gerakan atau apalah itu, di antaranya sekolah rujukan kemudian bermetafora menjadi sekolah zonasi, sekolah digital, sekolah ramah anak, sekolah berwawasan lingkungan, sekolah sehat, sekolah adiwiyata, dan yang lain-lain mungkin masih banyak lagi. Ini mungkin mendikbud sebaiknya merenung betapa luar biasanya pelaku pendidikan di persekolahan dengan berbagai gerakan yang harus dijalankan.

Ketika ada yang menyinggung bahwa jumlah mata pelajaran (mapel) di sekolah-sekolah kita terlalu banyak, mungkin perlu dikaji lebih lanjut. Jika ditanyakan kepada siswa dan oranguanya, mungkin mereka akan membenarkan bahwa mapel terlalu banyak. Tapi jika ditanyakan kepada guru pengampu mapel, bisa jadi tidak sependapat. Hal ini bisa saja karena rasa primordial keilmuan atau ada hal lainnya. Dalam hal ini mendikbud patut merenungkan secara khusus supaya tidak memakan buah simalakama. Mungkin hal inilah yang merupakan salah satu hal terberat dalam upaya perombakan kurikulum. Namun mendikbud yang baru perlu mengkajinya karena sudah menjadi tugas khusus dari Presiden.

Perombakan kurikulum atau mungkin lebih halusnya perbaikan kurikulum, sudah diambang pintu. Mendikbud tentu sangat menyadari hal itu, terlebih sudah banyak masukan dari berbagai kalangan. Namun menutut hemat penulis, perbaikan kurikulum sebaiknya fokus pada beberapa hal, yaitu sumberdaya manusia, mutu sarana prasarana, dan akses pendidikan.

Sumberdaya manusia pendidikan patut dipertimbangkan karena mereka lah yang akan memainkan “senjata” kurikulum nanti. Terdapat dua jenis sumberdaya manusia dalam pendidikan, pendidik dan tenaga kependidikan. Pendidik jika di sekolah disebut guru dan di perguruan tinggi disebut dosen. Kemudian tenaga kependidikan adalah tenaga pendukung dalam pelaksanaan pendidikan, bahkan bisa jadi merupakan backbound dalam setiap lembaga pendidikan. Sebagus apapun kurikulum, jika sumberdaya manusia tidak menjadi perhatian maka kurikulum hanya sekedar dokumen yang tersimpan.

BACA JUGA:  Infrastruktur Jalan Mencengangkan, Bangunan Sekolah Memprihatinkan

Bagaimana supaya tenaga pendidik dan kependidikan siap tempur dengan kurikulum yang baru, mendikbud tidak perlu terlalu berpikir keras, cukup perbaiki sistem kesejahteraan mereka.

Mutu sarana dan prasarana pendidikan tidak dapat dilepaskan dari keinginan memperbaharui kurikulum. Peningkatan mutu sarana dan prasana pendidikan di seluruh Indonesia wajib dilakukan. Kurikulum sebagus apapun jika sarana dan prasarana tidak bermutu maka bagaimana cara menerapkan kurikulum. Untuk hal ini mendikbud hanya perlu memperbaiki distribusi yang selama ini terjadi. Anggaran pendidikan yang konon besar harus diperbaiki sistem distribusinya supaya berdayaguna dalam meningkatkan mutu sarana dan prasarana pendidikan.

Mengenai akses pendidikan maka mendikbud harus berpikir ulang, terlebih sekarang pendidikan tinggi sudah kembali lagi ke kemendikbud. Sudah selayaknya akses pendidikan ke perguruan tinggi negeri lebih bersahabat dengan pendidikan menengah. Kemudian akses ke pendidikan menengah juga penting untuk diperbaiki untuk meningkatkan daya saing siswa. Dengan tidak mengabaikan afirmasi kepada warga negara ekonomi lemah, faktor-faktor penentu daya saing juga harus diperhatikan. Singkat kata, sejatinya sistem zonasi tidak memperbaiki apapun, termasuk di pendidikan dasar. Jika sistem zonasi konon untuk membentuk setiap sekolah menjadi maju dan favorit, maka bisa saja terjadi sebaliknya. Sekolah yang selama ini sudah terbina menjadi sekolah maju, akan mengalami degradasi. Namun sekolah yang diharapkan menjadi sekolah maju malah berjalan di tempat, karena sarana dan prasarana yang sangat terbatas.

Ketika sumberdaya manusia, mutu sarana prasana dan akses pendidikan selesai diurus, maka silahkan mendikbud mengembangkan merombak kurikulum. (*)

2 KOMENTAR

  1. Nggak bagus komentarnya…tdk mendukung mas mentri….zonasi ituvbagus kalau dilakukan dengan baik…..pengurangan mata pelajaran itu sangat baik kalau benar benar terfokus

  2. Betul…sudah waktunya untuk tidak sedikit-dikit rombak kurikulum…sarpras dan tenaga sarpras diperhatikan…cobtoh lab. Saja…berapa sekilah sih yg sydah punya lab bahasa ? sudah berfungsi dg semestinyakah lab2 ipa yg sudah ada ? adakah tenaga khususnya ? (Ka.Lab, Laboran, Penanggung jawab teknis, dll, dsb. )

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here